19 September 2014

Borok Sikuten

Siapa yang tak kenal dengan penyakit Borok, bentuknya seperti koreng yang lebar dan bernanah. Mendengarnya saja membuat orang bergidik ngeri. Apalagi mengharapkan penyakit tersebut mampir di tubuh kita. Kalau borok sikuten, berarti borok yang adanya di siku tangan seseorang. Sebenarnya 'borok sikuten' sendiri merupakan istilah dalam bahasa jawa yang digunakan orangtua pada jaman dahulu untuk menggambarkan seseorang yang menyebut-nyebut pemberiannya pada orang lain atau justru meminta kembali apa yang sudah diberikan ke orang tersebut. Mungkin dulunya istilah borok sikuten dimaksudkan untuk penekanan bahwa perbuatan itu sangat tidak baik dan tak layak. Hingga kita harus menjauhi perbuatan tersebut seperti menjauhi penyakit tadi. Hmm, benar juga ya..

Jadi ingat firman Allah dalam surat Al Baqarah:264, yang artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir . “ (Al Baqarah:264)

Sebuah pemberian atau kebaikan yang kita berikan kepada orang lain tidak akan bernilai apapun di hadapan Allah Swt apabila berniat mendapat balasan dari penerimanya. Apalagi bila menyebut-nyebut bantuan yang pernah kita berikan dengan niat menyakiti sang penerima bantuan tersebut. Bahkan memberikan stempel "kacang lupa kulitnya" di jidat sang penerima bantuan ketika keadaan berbalik.

Hanya orang-orang berpenyakit hati yang merasa sedih dan sakit hati ketika orang yang dulu pernah dibantunya memiliki kehidupan yang lebih baik bahkan menurutnya merasa bahagia saat ini. Mereka lupa bahwa kekayaan, ketinggian ilmu, harta, pangkat, jabatan, anak-anak, juga istri-istri sejatinya hanya milik Allah yang dititipkan sementara pada siapa saja yang Dia inginkan. Bisa saja pada hamba sahaya yang dulunya hina, pengemis miskin, bahkan anak penjudi sekalipun. Karena itu hak prerogatif Allah sebagai pemilik mutlak. Kalau sudah begini, lalu siapa kacang siapa kulit ? Bukankah hanya Allah sebaik-baik tempat bergantung dan pemberi balasan ?.

Sebaliknya bila Allah mau, semua bisa diangkat hanya dalam sekejap mata. Jangan sampai perbuatan baik yang kita lakukan bukannya mendapat pahala malah justru membuat kita  bangkrut dan rugi luar biasa karena perbuatan sendiri. Naudzubillah...

Ada tiga golongan, yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak akan Allah lihat, dan tidak akan Allah sucikan, serta baginya adzab yang pedih. Rasulullah mengulang sebanyak tiga kali. Abu Dzar bertanya : Siapa mereka wahai Rasulullah ? Sabda beliau : Al musbil (lelaki yang menjulurkan pakaiannya melebihi mata kaki, al mannaan (orang yang suka menyebut-nyebut sedekah pemberian), dan pedagang yang bersumpah dengan sumpah palsu” (H.R. Muslim:106).

Sesungguhnya semua yang melekat pada tubuh kita beserta atribut dan fasilitas yang kita nikmati saat ini, semata hanya titipan sebagai ujian dari Sang Maha. Hingga tiba saatnya yang kita bawa hanya selembar kain putih pembungkus tubuh, juga amal perbuatan yang menjadi kisah perjalanan sang tubuh.

Wallahu'alam bishowab.


 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...