18 September 2014

Amanah

Beberapa minggu lalu, diriku diajak suami menemaninya ke kantor. Setelah menyetorkan jarinya di mesin absensi, Abu Alifa menarik lenganku sembari mendekatkan bibirnya ke telingaku. Seketika aku mundur ke belakang sambil bilang " eh mau ngapain bi, malu diliatin security tau" .
Abu Alifa malah manyun sambil menarik ujung jilbabku, "huu....Ge-er. mang mo ngapain ?? orang mau dibisikin juga". Wajahnya nampak serius, setengah berbisik mengajakku menjauh ke tempat lebih tersembunyi. "Umi lihat orang itu ?" sembari ujung bibirnya sedikit mancung ke satu arah (haha...)‪#‎NunjukPakeBibir‬ .


Dalam suasana yang mulai gelap karena matahari sudah tenggelam, aku melihat seorang pria paruh baya berjas hitam berjalan terburu2 sambil menunduk, keluar dari sebuah ruangan di gedung yang sama tempat kami berdiri, seorang security menjajarinya lalu membukakan pintu mobil sedan hitam sebelum akhirnya mobil yang ditumpangi pria berjas tadi menghilang dari pandangan kami . Tampak jelas di wajahnya yang tirus kesusahan yang teramat. Tak berani mengangkat wajah sekedar menatap orang2 di sekitar. Sepertinya aku pernah melihat wajah itu sebelumnya, tapi entah dimana.
Dari suamilah aku tahu bahwa pria berjas tadi adalah Mr. "X" , mantan pejabat di kementrian tempat suami bekerja, mantan petinggi lembaga penting negara, yang di masa pensiunnya justru menjadi tahanan KPK karena beberapa kasus korupsi. Wajahnya sempat beberapa lama wara-wiri di siaran berita televisi. Entahlah, mungkin ada keperluan penting hingga ia mendatangi gedung ini dan keluar kala senja mulai gelap.

Di usia tuanya, harusnya bisa menikmati masa pensiun dengan anak-anak dan celotehan cucu tercinta. Menikmati secangkir teh sembari membaca qalamNya yang agung. Namun justru bergelut dengan masalah yang ditumpuk sejak berpuluh tahun lalu. Menunduk malu di hadapan khalayak padahal dahulu semua bawahannya tunduk tak berkutik. Di dunia saja menderita, mampukah berkelit dari pengadilan yang Maha Adil kelak ?. 

Fikiranku menerawang mencari hikmah yang baru saja Allah sajikan di depan mataku. Sesungguhnya amanah yang dibebankan ke pundak kita akan dituntut pertanggungjawabannya kelak, cepat atau lambat ! di dunia ataupun akhirat !.

Aku hanya mampu tertegun memandangi wajah pria di sebelahku. Ya Rabb, jagalah ia dan hatinya agar senantiasa takut akan diriMu. Jagalah ia agar memberi nafkah bagi kami keluarganya hanya dari yang halal dan Engkau ridhoi, aamiin Ya Rabb...

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...