3 July 2014

Tragedi "TALANGSARI"

Rasanya masih segar dalam ingatan peristiwa di tahun 1989. Tubuh mungil dan mata kecilku menjadi saksi sebuah tragedi mengerikan di kota kelahiran. Emosi dan ketegangannya masih sanggup membuat keringat dingin bercucuran walau sudah melewati angka 25 tahun lalu.

Saat itu usiaku baru 4 tahun, berjalan digandeng ibunda sepulang sekolah TK. Melewati deretan lapak pedagang di pasar sayur yang kini sudah berubah fungsi menjadi terminal kota Metro. Karena memang sekolahku, TK. Aisyiyah Bustanul Atfal bersebelahan dengan lokasi pasar kala itu. Tiba-tiba suasana berubah gaduh dan menegangkan ketika terdengar suara desingan peluru. Pedagang dan pembeli di pasar itu lari kocar-kacir kesana kemari sambil berteriak panik. Aku yang saat itu masih kecil segera diraih ibunda ke dalam gendongan sambil ikut berlari menyelamatkan diri. Masih belum menyadari apa yang terjadi, sesosok tubuh tersungkur dan terkapar bersimbah darah di depan mata. Tubuh kecilku gemetar ketakutan dalam gendongan ibu. Kata orang dewasa di sekitar kami, ia penjahat yang melarikan diri ke Kota Metro dan dikejar oleh para tentara.

Suasana kian mencekam kala berpuluh pria tegap berseragam loreng membawa sejata lengkap berjaga di setiap penjuru dan sudut kota kecil kami. Memory ini juga masih jelas merekam kejadian ketika ayah dan puluhan bapak-bapak dipaksa berendam di saluran irigasi peninggalan Belanda selama berjam-jam sambil dihadapkan dengan moncong senjata dan bentakan karena lalai saat ronda / jaga malam sehingga orang-orang yang 'mereka' sebut para penjahat itu bisa melarikan diri ke kota kecil kami. Konon katanya, para buronan itu melarikan diri dari sebuah desa kecil di daerah Way Jepara, Lampung Timur beserta seluruh keluarganya.

Riuh suara desingan peluru, puluhan tubuh tersungkur bersimbah darah bukan hanya orang-orang dewasa bahkan tubuh kecil tak berdosa seakan menjadi tayangan mengerikan yang harus dinikmati di masa itu. Dan tak seorang pun bisa berbuat apa-apa kecuali dipaksa menjadi BISU.

Berpuluh tahun kemudian barulah aku paham, bahwa peristiwa itu tercatat dalam sejarah sebagai "TRAGEDI TALANGSARI"

-- AlzaYulia, Memory Of Talangsari --

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...