16 June 2014

Ironi Kartu Sakti

Kartu Jaminan Kesehatan
Teringat peristiwa hampir setahun lalu ketika Fathan kecilku harus mengalami operasi dan perawatan intensif selama empat bulan di RS Anak rujukan atau “RS Terminal Akhir“ di Indonesia. Konon katanya, RS anak milik pemerintah ini terbesar se-Asia Tenggara.

Dalam beberapa bulan itu, setiap harinya disuguhkan adegan memprihatinkan. Entah sudah berapa belas kali melihat di depan mata, para orangtua yang berasal dari keluarga kurang mampu dipaksa merelakan putera-puteri kecil mereka "dipanggil Tuhan". Anak-anak yang tak tertangani dengan serius karena mereka hanya bisa mengandalkan KJS. Wajah para pelayan masyarakat di sana pun sontak berubah ketika pertanyaan mereka mengenai pembiayaan tindakan dan perawatan diserahkan kepada KJS.


Atau cerita seorang teman yang anaknya mengalami kebocoran jantung dan sepantasnya anaknya tersebut harus segera menjalani operasi. Tapi si ayah harus bersabar menerima keadaan bahwa anaknya baru bisa di operasi tahun depan dengan alasan jadwal operasi dokter penuh. Sementara sang anak harus berjuang setiap harinya melawan penyakitnya hingga setahun ke depan. Usut punya usut, ternyata pembiayaan operasi dipercayakan teman tersebut kepada ASKES yang sekarang berganti nama menjadi BPJS. Beliau merupakan seorang PNS golongan III yang menurut perjanjian bisa mendapatkan fasilitas minimal di kelas I dengan berbekal kartu BPJS tersebut. 


Berbanding terbalik dengan pemegang Asuransi Swasta, ataupun pemegang dana pribadi yang segera mendapatkan penanganan serius. Dengan kata lain, hanya kalangan mampu dan memiliki uang yang berhak mendapatkan perlakuan dan pelayanan kesehatan secara layak.
Tak ada satupun peristiwa yang kebetulan. Allah pasti punya rencana ketika tahun 2013 lalu Fathan, anak ketiga kami tak masuk ke dalam anggota keluarga yang tertanggung ASKES. Tak terbayangkan bila kondisi kritis Fathan karena invaginasi harus mengalami hal yang sama bila saat itu terdaftar sebagai tertanggung ASKES. Walaupun dengan mengerahkan segala tenaga dan sumber daya, juga menjual aset kami yang memang tak banyak untuk membiayai seluruh tindakan operasi dan perawatan jagoan kecilku dengan biaya pribadi, tetapi kami bersyukur semua bisa ditangani dengan fasilitas dan pelayanan terbaik hingga Fathan dinyatakan sembuh. Pengalaman mengajarkan banyak hal pada kami.


Terlepas dari pelayanan rumah sakit yang minimalis bahkan mengecewakan yang diterima para pemegang Kartu Jaminan Kesehatan, tentunya kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pihak rumah sakit. Karena untuk melayani masyarakat, ada biaya yag juga harus dikeluarkan oleh pihak rumah sakit. Fasilitas yang memerlukan biaya operasional, alat kesehatan dan obat-obatan yang harus dibeli dan bukan diperoleh secara gratis. Belum lagi jasa para dokter dan karyawan yang harus digaji secara layak karena mereka memiliki keluarga yang juga harus dinafkahi selain melayani masyarakat. Sementara sering kita mendengar berita di televisi, bahwa banyak rumah sakit yang mengeluhkan tersendatnya pembiayaan operasional rumah sakit diakibatkan defisit dana karena pihak penjamin seperti ASKES, KJS ataupun JAMKESMAS terlambat membayarkan biaya pertanggungan bahkan hingga berbulan-bulan. Di Jakarta saja, terhitung ada 16 rumah sakit yang menolak Kartu Jakarta Sehat (KJS) karena Pemda DKI sulit ditagih.


Pantas saja, bila akhirnya pihak rumah sakit kehilangan kepercayaan pada pemerintah selaku penanggungjawab sementara masyarakat kehilangan hak untuk mendapat pelayanan kesehatan yang layak. Miris tapi tak bisa berbuat banyak.

Dilihat dari penerapannya, Kartu Jaminan Kesehatan masyarakat kurang mampu seringkali dijadikan umpan menggiurkan dan iming-iming atas kekuasaan oleh pihak yang ingin mengambil keuntungan. Tetapi menjadi sebuah ironi bila akhirnya masyarakat hanya dihadapkan pada 2 pilihan.

1. Memiliki banyak uang untuk membayar biaya rumah sakit atau mempercayakan kepada Asuransi Swasta dengan membayar iuran bulanannya. Kemudian bisa bebas memilih fasilitas RS yang diinginkan.
#EkonomiMapan

2. Bawa kartu sehat keluarga tidak mampu. Bersedia menerima fasilitas minimalis yang sudah di tentukan dan proses mengurus syarat yang panjang .
#EkonomiRakyatKecil

Selain berdo'a dan bergantung pada Allah SWT, kita juga harus berusaha mewujudkan impian. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...