17 February 2014

[ Unforgatable Journey ] Lelaki Kecil Dengan Belalai dan Kantong Ajaib

Hmm..rindu rasanya dengan suasana sejuk dan aroma udara segar memenuhi seluruh rongga penciuman. Menikmati kicauan burung saling bersahutan. Memanjakan mata dengan hamparan hijau yang mengasyikkan. Sekedar melepas penat dan melemaskan urat syaraf setelah bergelut dengan ketegangan selama berbulan-bulan, berpetualang di rumah sakit bersama selang infus, obat-obatan, ketatnya peraturan dan para suster berseragam.
Bulan sudah memasuki bulan September. Rumor yang berkembang waktu SD dulu, katanya di bulan yang namanya berakhiran 'ber' berarti sudah dimulai musim hujan. Tapi justru berbeda dengan musim tahun ini, hujan sepertinya masih molor beberapa bulan lagi. Yang tak berbeda adalah suasana pagi di Jakarta  selalu bergelut dengan pengap dan bisingnya sang ibukota. Hawa dingin khas pagi hari pun seolah enggan singgah  berlama-lama. Apalagi menanti butiran embun yang bergelayut manja di pucuk dedaunan di musim 'panas' ini, menunggu sesuatu yang belum pasti itu seperti menanti  abang tukang sayur di hari jum'at. Karena terkadang  abang tukang sayur dikomplekku libur jualan di hari jum'at.

Tapi Ada yang tak biasa pagi ini, dua bocah centil yang biasanya betah berlama-lama 'untel-untelan' di atas kasur segera bergegas ketika mesin mobil kami menyala. Padahal Abi mereka hanya bermaksud memanaskan mesin mobil *kecele.

Bersemangat, bocah-bocah kecil itu membantu menaikkan semua barang-barang dan perlengkapan yang sudah disiapkan sejak semalam. Ya, duo krucils Alifa dan Zahwa sedang bergembira karena hari itu akan diajak ke Puncak .

"Mau kemana kita ? Puncak Gunung"  celoteh riang Duo krucils dengan gaya Dora-nya. Tak peduli dengan hatiku yang sebenarnya dag dig dug tak karuan. Bukan karena baru pertama kali jalan-jalan ke Puncak, tapi karena ini merupakan perjalanan pertama kami sejak Fathan sakit. Bukan perjalanan biasa, tapi perjalanan rekreasi bersama seorang anak dengan 'kantong ajaib' dan 'belalai'nya. High risk journey with our special li'l boy. 


Sebenarnya Jagoan kecil kami satu-satunya ini terlahir sebagai bayi laki-laki yang sehat dan gemuk. Sebelum sebuah badai tak terduga menghantam tubuh mungilnya tanpa ampun. INVAGINASI USUS sukses mengirimnya ke dunia baru yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya pada bulan ke-sepuluh usianya. Dunia itu milik anak-anak berkebutuhan khusus. Merasakan menjadi orangtua yang memiliki anak-anak istimewa. Selain fisik mereka 'istimewa', kebutuhannya tentu istimewa pula. Hari-hari yang dilalui bagaikan menyusuri jalan penuh ranjau yang bisa terinjak kapan saja. Keganasan invaginasi usus mengakibatkan sebagian ususnya dipotong sepanjang 25 cm. Fathan kecilku dengan ileostomi di perut sebelah kirinya dan NGT(nasogastric tube) yang terpasang dari hidung hingga lambungnya.  

NGT yang berfungsi sebagai alat memasukkan makanan berupa cairan susu siap serap langsung ke dalam lambungnya setiap 2 jam. Dengan kondisi yang riskan setelah beberapa kali Fathanku bolak-balik RSAB. HARAPAN KITA karena diare dan dehidrasi setelah di-ielostomi. Mendebarkan bila mengingat jarak perjalanan Puncak Bogor- Jakarta yang 'lumayan' pada kondisi darurat. Ya Rabb, lindungilah kami sekeluarga.


Kulirik sosok tegap di sebelahku mencoba meyakinkan hatiku bahwa semuanya akan baik-baik saja, anggukannya mematahkan keraguanku. Bismillah...
Walau bagaimanapun, kami perlu refreshing, menyegarkan fikiran dan kembali menata hati sebelum menghadapi operasi Fathan yang kedua bulan depan. Operasi penutupan ileostominya. Jarak yang relatif dekat dari kota Jakarta dibandingkan kota lainnya menjadi pertimbangan kami memilih Puncak Bogor sebagai destinasi wisata kali ini. Sekotak alat perang berisi colostomi bag, pasta, feeding drip, gunting, hypafix, susu peptamen jr, ngt cadangan, stetoskop dan perlengkapan Fathan lainnya wajib diangkut pertama kali.

Karena persiapan yang lumayan ribet, akhirnya kami meluncur membelah jalan tol Jakarta-Bogor saat hari menjelang siang. Di luar dugaan, suasana di jalan tol menuju Puncak Bogor super duper macet dan hampir semua mobil berplat 'B'. Tampaknya, warga Jakarta lebih memilih menyepi dari hingar bingar Jakarta ke Puncak Bogor yang hijau di akhir pekan. Akibatnya, kemacetan di Jakarta pada hari-hari kerja pindah ke Jalan Raya Puncak pada akhir pekan. Diperparah jadwal penutupan jalur ke arah Puncak yang berubah lebih awal dari biasanya, terdamparlah kami sekeluarga di antara deretan panjang mobil yang menanti pintu tol dibuka. Fiiuuhhh.... 
Sayang bahan bakar, matikan AC dan kaca jendela dibuka lebar. Mumpung hampir sampai di Puncak, dan udara sudah mulai berasa adem. Ngirit.

Selama macet, ritual 'minum susu' dan membersihkan 'kantong ajaib' Fathan menjadi sangat mengesankan plus mencengangkan bagi orang-orang yang sedang asyiknya ngaso sambil menggelar tikar di badan jalan tol yang tak sengaja menangkap adegan yang tak biasa ini. Ada 'infus' menggantung berisi cairan berwarna putih susu, dan selangnya menyambung ke hidung. Juga kantong ajaib yang menempel di perut sebelah kiri bocah cilik pemilik "belalai mungil". Reaksi awal, biasanya mereka bengong sebelum kemudian berlalu. Masih sambil bengong, hehehe...
Dua sejoli tak terpisahkan

Perjalanan yang melelahkan berbuah manis setelah hamparan hijau nan sejuk menyambut kami dengan pesonanya. Alhamdulillah, kami sampai...
Setelah mampir makan siang, kami segera check in di Hotel Bukit Indah di daerah Puncak. Tadinya kami berniat menginap di Hotel Puncak Pass tapi karena planning yang mendadak, semua kamar di sana full booked sejak seminggu sebelumnya. That's no problem, yang penting kita jalan-jalan, yeaaayyy..
Setelah bersih-bersih di hotel, menikmati sunset menjadi tujuan selanjutnya. Kemudian, leyeh-leyeh di hotel. Memulihkan energi dan tenaga supaya bisa menikmati aktivitas besok pagi dengan tubuh segar.



Penampakan Hotel Bukit Indah, Puncak


Hari kedua di Puncak, Sarapan pagi merupakan hal paling ditunggu dan menyenangkan. Tanya kenapa ? karena gratis.*ngirit lagi..
Bersama tamu-tamu hotel yang lain, kami menikmati hidangan sarapan pagi yang disiapkan oleh pihak hotel di ruangan khusus yang lumayan luas di  lantai tiga. Kami memilih meja yang terletak di sisi luar balkon. Pada sesi sarapan pagi ini, kami dimanjakan oleh udara pagi yang sejuk dan pemandangan pegunungan hijau sejauh mata memandang dari atas balkon.  

Begitu pula jagoan kecilku yang begitu menikmati "sarapan pagi"-nya sambil duduk santai di stroller kesayangannya. Tanpa beban aku sambungkan selang feeding drip berisi susu yang sudah kusiapkan sebelumnya ke selang NGT Fathan. Setelah celingak-celinguk mencari 'cantolan nganggur' disekitar meja kami dan tak satupun kutemukan, terpaksa aku dan suami bergantian memegangi feeding drip-nya dengan tangan kiri sementara tangan sebelah kanan menyuap makanan sendiri. Tak disangka, jeng..jeng..jeng, semua pasang mata di ruangan itu sontak melirik kearah jagoan kecilku yang dengan santainya menikmati menu sarapan paginya yang menggantung.  Aku dan suami hanya cuek sambil cengar-cengir. Entah apa yang ada dalam benak para pemilik mata-mata yang memandang keluarga besar kami. Sepertinya jagoan kecilku ini malah menikmati menjadi artist dadakan.


Sang jagoan menikmati matahari terbit dan udara pagi pegunungan


Kemanapun kami mampir, walaupun sekedar sesi narsis foto-foto selalu ada pasang mata yang menoleh pada Fathan kecilku. Tak sedikit juga yang kemudian berbisik-bisik mesra dengan orang di sebelahnya sambil melirik sang artist cilik. Lagi-lagi, aku dan suami hanya bisa saling pandang sambil nyengir kuda. Lumayan, mencicipi liburan ala artis terkenal yang selalu dilirik penggemar. Deg-degan tapi asik.  Just wanna say to them, We enjoyed our travelling here, syalalala...


Alhamdulillah, semua kekhawatiran dan cemasku terobati dengan wajah ceria ketiga Krucilsku, termasuk Sang Jagoan kecil. Bangga memiliki 2 bidadari kecil yang selalu memberi semangat juang pada adik kecilnya. Terus menularkan senyum dan tawa di wajah Sang Jagoan cilik. Bahagia bercampur haru melihat keceriaan dan ketangguhan pejuang kecilku. Kuatnya meyakinkan kami bahwa tubuh mungilnya mampu tegar menghadapi terpaan badai.  You are my special gifts from Allah, alhamdulillah. We love you so much, sayangku...
  
" Fathanku hebat Fathanku kuat. 
Kuat ya sholehku, insyaalloh banyak do'a terkirim untuk kesembuhanmu sayangku. Karena sesungguhnya Alloh menciptakan kemudahan untuk mengiringi setiap kesulitan, Insyaalloh. ..
Semoga Alloh membalas sakit dan kuatmu dengan kesholehan, kecerdasan, kebijaksanaan dan ketangguhanmu kelak ya Nak, Aamiin ya robbal 'alamin"


Dan 2 hari yang mendebarkan itu terlewati penuh senyuman. Semua bisa dilalui dengan damai dan tentram hingga kembali ke rumah dengan semangat baru dan fikiran yang segar kembali.  Semua sesi travelling dilalui tanpa masalah. Tak ada kantong bocor, tak ada muntah, tak ada lecet, apalagi rewel seperti yang aku takutkan sebelumnya. Semoga perjalanan istimewa ini menjadi pengalaman pertama dan terakhir Fathanku dengan ileostomi dan belalai imutnya. That was my unforgetable journey as long as my life...


 --Alza Yulia, Memory @September 2013--
*****


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...