19 August 2014

Cinta Sang Pangeran

Keputusan untuk menikah di usia yang terbilang muda ditambah masih berstatus mahasiswa ikatan dinas di sebuah Universitas adalah bukan perkara mudah bagiku. Selain perjuangan meyakinkan orang tua yang super alot dan banjir airmata, juga resiko yang membayangi apabila keputusan itu benar-benar diambil yaitu mengganti seluruh biaya kuliah yang sudah kujalani sekaligus uang insentif bulanan yang sudah kuterima setiap bulannya dari pihak universitas. Aku mantap melangkahkan kaki menuju dunia baru itu ketika calon suamiku mengatakan siap dengan resiko yang akan kami tanggung bersama.


Kesepakatan itu merupakan kesepakatan hanya antara aku dan calon suami ketika akhirnya kami memutuskan siap menikah tanpa prosesi pacaran sebelumnya. Akhirnya, kami menikah tanpa diketahui pihak Universitas karena 'perhelatan akbar' itu digelar di kampung halaman nan jauh di seberang Selat Sunda. Tanpa cuti, tanpa honeymoon

Ketika dua hati menyatu dalam ikatan suci...

Seharum-harumnya buah durian disimpan, harumnya akan tercium juga. Rumahtangga kami baru berhitung bulan, ketika beberapa rekan sesama mahasiswa ikatan dinas akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada pihak Universitas. Dan peristiwa mendebarkan itu akhirnya terjadi juga, aku diharuskan menjalankan konsekuensi sesuai perjanjian yang aku tandatangani di atas materai di awal masuk kuliah dulu. Mengganti dan mengembalikan uang bila ingin terus melanjutkan kuliah, atau berlapang dada memutuskan kuliahku sampai di situ. Dan pria yang menikahiku itu pun membuktikan janjinya. Seluruh uang tabungan yang disisihkannya bertahun-tahun digunakan untuk membayar "hukuman" itu dan meneruskan kuliahku dengan biaya pribadi padahal kuliah S1 beliau pun belum rampung..

Tabungan pun kosong tak bersisa karena "isi"-nya dipakai untuk mengganti seluruh biaya kuliahku dan "insentif" ikatan dinas selama 32 bulan dengan jumlah yang sangat besar menurutku saat itu. Itupun aku masih bersyukur karena tidak harus mengembalikan 3 kali lipat biaya kuliah seperti yang tertulis dalam perjanjian awal antara aku dan pihak Universitas. Padahal, dana itu awalnya beliau kumpulkan jauh sebelum menikah untuk memberangkatkan haji kedua orangtuanya. Tangisku pun pecah, membasahi dada bidangnya sembari tak henti kuucap permintaan maaf. Namun dengan wajah teduhnya beliau menjawab,

"Aku yang memilih kamu menjadi istriku, calon ibu dari anak-anakku. Dana yang aku keluarkan tak sebanding untuk membayar gigihnya perjuanganmu memperoleh beasiswa untuk kuliah hingga ke jakarta, tak sebanding dengan pengorbananmu melahirkan anak-anak kita kelak. Sementara ke Baitullah itu tamu Allah, de'. Hanya orang-orang yang Allah panggil yang IA perkenankan menjadi tamu-NYA. Insyaalloh, bila Allah berkenan Bapak dan Ibu naik haji, Allah mampukan kita dengan cara-NYA atau Allah limpahkan rezeki untuk beliau berdua bisa menjadi tamu-NYA. Yang terpenting kita nggak berhenti berdo'a dan berusaha mewujudkan impian mereka". Semakin aku tergugu dalam haru.
Tiga tahun kemudian, Allah benar-benar menjawab do'a pangeranku dengan berangkatnya kedua mertuaku berhaji ke Baitullah. Dibiayai dana pesangon yang diperoleh bapak mertua dari perusahaan tempatnya bekerja. Ya, bapak mertua merupakan seorang purnawirawan TNI dan melanjutkan bekerja di perusahaan swasta selepas masa pensiunnya di TNI.

Kini, semua kisah itu menjadi sebuah kenangan indah dan mengesankan dalam membina komitmen dan meniti rumah tangga bersama suami tercinta. Keputusan nekat tak terlupakan. Perjuangan menyatukan dua hati, menautkan cinta demi sebuah kehalalan disisi Allah. 


That was a beautiful moment...

Setelah menikah, kami mengontrak di sebuah kontrakan petak yang terdiri dari 3 plong, yaitu ruang tamu, kamar tidur, dapur, sepetak kecil kamar mandi plus toilet di pojok dapur, dan teras mungil berukuran 1x5 meter. Karena aku dan suami sama-sama masih melanjutkan kuliah, praktis masih membutuhkan banyak biaya setiap 2 bulannya karena kami berdua mengambil kelas extensi. Tabungan sudah kosong tak bersisa. Sedangkan, sumber penghasilan hanya diperoleh dari suami yang bekerja sebagai PNS. Sesekali aku mendapat proyek membuat sistem informasi karena sebelumnya aku dipekerjakan sebagai programmer di kampus sebelum status ikatan dinasku dicopot. Lumayan, untuk menambah sumber penghasilan keluarga kecil kami.

Alhamdulillah, sejauh ini semua masih bisa kami lewati  tanpa harus membebani orangtua. Kami memilih berdiri di atas kaki kami sendiri walau terseok dan tertatih. Karena kami yakin, ketika memutuskan untuk menikah maka Allahlah yang akan memampukan kami. Walau tak jarang kami harus mengumpulkan kembali uang receh yang tak sengaja tercecer dan sempat terabaikan ketika kantong kami benar-benar menipis di penghujung bulan. 


Sebuah kejutan indah pun mewarnai perjalanan kami, ketika aku harus mengandung anak pertama kami dengan kondisi ekonomi yang masih belum stabil. Karena aku mengambil kelas extensi, aku berangkat kuliah setiap malam dengan perut yang kian membuncit. Keletihan dan kegelisahan yang aku rasakan sepanjang malam  tak jua membiarkan mataku terpejam walau sesaat. Mungkin insomnia karena bawaan hamil. Akhirnya kuhabiskan malam dengan sholat dan menulis di komputer tuaku hingga kantuk menyerang menjelang pagi. Setelah adzan subuh berkumandang dan selesai kutunaikan kewajiban, mataku baru bisa terpejam dan terbangun siang hari tepat pukul 11.00. WIB. Nyaris setiap hari kujalani hari-hari seperti ini. 


Hingga Suatu hari, kudapati diriku lemah karena sering kurang tidur, ditambah rasa mual dan puyeng khas ibu hamil sepanjang usia kehamilanku yang kian membesar.

"Kruucukk..krucukk" Allah perutku...sepertinya protes dan minta segera diisi makanan. Kudapati gas di kompor habis, minyak goreng juga habis, beraspun tak bersisa, hanya tersisa beberapa butir telur di kulkas. Kuperiksa dompetku berharap masih menemukan rupiah di sana. Namun yang kutemukan hanya beberapa keping uang logam yang jelas tak cukup untuk membeli seliter beras. Beruntung, beberapa kotak susu UHT dan sebungkus mie instant mentah masih cukup untuk mengisi perutku sambil menunggu suamiku pulang.

"Krriiuukk...krucukk" aku menoleh menatap wajah lelah pria di sebelahku. Aku tahu, saat ini ia berjuang menahan rasa letih dan laparnya sepulang menjemput rizki seharian. Dan nyanyian "kerinduan" itupun terdengar bersahutan dari rongga perutku..."Krucukk...krucukk". Kami hanya bisa tersenyum dalam kebisuan. Sambil menunggu seliter beras yang kami beli dari uang receh hasil "inspeksi" mendadak ke seluruh sudut rumah itu berubah bentuk menjadi nasi di tabung ajaib bernama magicom. Ditemani sambel dadakan yang kubuat dari bumbu bawang merah, garam dan beberapa butir cabe rawit yang kutemukan di kulkas, akhirnya kami menikmati makan malam sambil membayangkan sedang menikmati nasi goreng tanpa digoreng. Nikmatnya...

Alhamdulillah malam itu kami tidur tidak dalam keadaan lapar. Berdua, kami tertunduk dalam syukur.

Seiring perjalanan waktu, keadaan ekonomi pun berangsur membaik hingga usia pernikahan ini menginjak tahun ke-tujuh. Dengan karunia terbesar yang Allah berikan kepada kami, trio Krucils yang lincah dan lucu-lucu. Menjadikan masa-masa sulit itu begitu indah dikenang dan membuat kami semakin bersyukur atas apa yang sudah diperoleh hari ini. Kerikil tajam yang menghampiri kaki-kaki kami hingga terluka dan berdarah adalah cara Allah menjadikan kami semakin kuat menapaki hari esok. Kami sadar jalan ini masih panjang. Entah apa yang akan kami temui di depan sana. Insyaalloh, Allah jadikan semua indah dan manis setelah kesulitan yang kami lewati. Dan menguatkan langkah keluarga kecil ini dalam perjalanan menuju Jannah-Nya, Aamiin.


Sejuta cara ungkapan cinta ala pangeranku...

Sebelum menikah, aku mengenal suami hanya sebatas teman kuliah biasa. Tak pernah terlintas dalam benakku kelak Pria pemalu (PEmuda terjebak MAsa laLU) ini akan menjadi satu-satunya laki-laki yang merajai hatiku *cuitcuiittt... 
Wajahnya mengingatkan aku pada bintang iklan salah satu produk obat batuk. Bukan karena ketampanan sang bintang, tapi justru karena penampilan khasnya yang jadoel plus culun, eh ? Wajah oriental dengan kacamata bulat besar, rambut klimis ala 70-an, sepatu boots kebanjiran, dan ransel yang segedhe gaban. Penampilan yang nggak banget bagiku waktu itu.

Entah kenapa aku justru menerima tawarannya untuk mengajakku menikah padahal  sudah belasan kali aku menolak tawaran yang datang dengan alasan kuliahku belum selesai. *Sok laku

Saat aku beritahu niatku untuk ta'aruf dan memberitahu tahu siapa calon suamiku pada sahabatku, Lia. Dengan mata melotot dan alis bertaut menatapku sambil bertanya,
"Serius Yuli ? nggak salah orang ?" Aku hanya nyengir sambil berkata,
"Bismillah, dijalani dulu aja ta'arufnya Lia, kalo mantap insyaalloh lanjut "
Ternyata, pria pemalu tapi nekat itu benar-benar berhasil menaklukkan hatiku. Hehe..

Banyak kejutan-kejutan kecil mewarnai kebersamaan kami. Sejak menikah hingga hari ini, setiap pagi aku disambut sepucuk surat cinta dan secangkir teh hangat yang tersaji manis di depan komputer kesayanganku. Padahal seharusnya aku yang menyajikan secangkir teh hangat untuknya di pagi hari. Walau hanya secarik kertas bertuliskan "i love you" dan sebuah icon smiley berkaca mata dan bergigi tonggos sebagai visualisasi dirinya, namun sanggup mengisi kembali semangatku sepanjang hari.


Atau kejutan di tahun pertama hari jadi pernikahan kami, serangkai bunga segar dengan vas yang cantik menyambutku di sore hari. Sepulang beliau dari bekerja. Senangnya bukan main. Dan rangkaian bunga itu aku letakan di sudut tempat tidur.


Sehari, dua hari, bunga-bunganya masih tampak segar dan indah. tapi pada hari ke-empat, kelopak bunga mulai layu dan rontok, daunnya juga mulai kering. Kejutan yang sesungguhnya baru terlihat ketika aku membersihkan kamar dan membenahi letak sang bunga. Dua ekor ulat gemuk seukuran jari telunjuk sedang asyik memadu kasih diantara bunga yang mengering. Mungkin, ketika dirangkai, ulat-ulat itu tak terlihat karena bersembunyi di balik bunga-bunga segar. Sontak aku melompat karena kaget. hiiii.....

Dengan mengumpulkan segenap keberanian, aku terpaksa meletakkan rangkaian bunga yang masih terbungkus plastik itu keluar rumah. Ketika sang pangeran pulang, dengan terheran heran bertanya padaku mengenai vas bunga yang pindah nongkrong di teras. Dan dengan senyum aku katakan,
"Makasih untuk 'bonus'-nya sayangku, tapi lain kali kasih aku bunga yang artifisial aja ya atau mentahnya juga boleh". Terbengong-bengong beliau menghampiri si 'tersangka', penasaran dengan bonus yang kumaksud. Dan, dua ulat besar itu berhasil membuatnya ber-o ria sambil nyengir.

Merenda hari merajut asa bersama pangeranku merupakan saat-saat indah tak terlupakan. Selalu ada caranya mengungkapkan cinta. Pria PEMALU (PEmuda terjebak MAsa laLU) semasa kuliah dulu menjelma menjadi pangeran impianku. Demi tampil ganteng di hadapanku dan dua bidadari kecil kami, beliau rela mengganti frame kacamatanya dengan pilihanku, selalu bertanya padaku saat memadu padankan pakaian, dan meminta pendapatku ketika memilih model rambut yang sesuai ketika mencukur rambutnya yang 'keriting jarum menantang langit' alias jabrik.


Kesabarannya juga membuatnya makin mempesona di mataku. Tak pernah sekalipun ia menaikan nada suaranya ketika bicara padaku walaupun aku meninggikan suara hingga oktaf tertinggi sekalipun. Atau dengan sabarnya izin dari kantor untuk mempersiapkan perlengkapan renang dua puteri kecilku dan sendiri mengantar mereka saat kelas berenang, sementara aku disibukkan dengan jagoan kecil istimewa kami. Tidak pernah malu karena semua pengantar adalah ibu-ibu.


Beliau rela berganti peran sebagai 'Abi Rumah Tangga' sepulang dari kantor. Memberesi rumah yang berantakan, menyapu dan mengepel jejak-jejak trio Krucils yang lengket di lantai,  menemani trio Krucils bermain,  mengajari Alifa membaca dengan sabar,  mengizinkan aku beristirahat, dan tak lupa menyuapiku 2 sendok madu + 2 kapsul minyak habbatussauda lalu memijit kakiku sebelum tidur. Padahal aku tahu ia juga lelah bekerja seharian.


Kisah menjalani sebuah tumah tangga bukanlah kisah di negeri dongeng. Yang selalu berakhir bahagia tanpa duka cita. Tak jarang biduk kami terombang ambing terhempas ombak, terkadang oleng disapa badai juga nyaris karam terbentur karang. Disaat aku tak kuat memegang erat dan nyaris menyerah untuk bertahan, selalu beliau memelukku sambil berucap,


"Sampai kapanpun aku takkan melepaskanmu, karena aku menyayangimu, karena kamu ibu dari anak-anakku". Lantas dengan lembut jemari kuatnya menggenggam tanganku.


Kemudian mengajakku menengok sebentar, mengenang kebersamaan kedua orangtua kami, orangtuanya, juga orangtuaku. Mengajakku kembali menyusuri jejak-jejak masa lalu kebersamaan mereka hingga menua termakan usia. Betapa kami berdua adalah saksi hidup perjuangan cinta kedua orangtua kami. Perjalanan mempertahankan kesetiaan bukanlah laksana melalui jalan yang halus mulus bertabur bunga. Tapi dengan perjuangan, berdarah, berpeluh dan airmata.


Dan pangeranku bilang, "itulah perjuangan kita", mempertahankan cinta, berpegang teguh pada perjanjian teragungnya dihadapan Sang Pemilik Cinta, bernama mitsaqon ghaliza. Perjuangan itu baru berakhir ketika nyawa terlepas dari raga. Menuju tempat peristiraharan terakhir, berkumpul di surga-Nya kelak, Aamiin Ya Rabb...


Semoga pangeranku tetap menjadi pangeranku, tak pernah berubah walaupun aku menua nanti. Walau rambutku memutih dan kulitku tak kencang lagi . Aamiin.



My Family
"My dearest husband, having you and our childrens was my sweetest moment and best gift from Allah. I wanna grow old with you.  I love you till the end, Insyaalloh. Wish Allah be pleased unite us in the heaven later, Allahuma aamiin..."


-- Special dedicated for my lovely husband, @akbar kurniawan --

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...