24 March 2014

Kusambut Hidayah itu Dengan Takbir

Saat itu usiaku 16 tahun. Menurut orang-orang di sekitarku, aku seorang gadis tomboy yang pecicilan dan super cuek. Anehnya, aku sendiri tak pernah merasa bahwa aku seorang yang tomboy apalagi bergaya seperti laki-laki. Eh ?

Tapi aku memang tipe orang yang cuek dan tak suka dengan gaya yang terlalu “girly”. Rasanya bukan gw banget gitu lho... Jangankan kemayu dengan gaya yang gemulai, untuk jalan pelan saja menurutku ribet . Sebenarnya aku hanya menyukai hal-hal yang simpel dan apa adanya. Termasuk gaya berpakaian. Tapi setelah aku berhijablah, aku baru menyadari bahwa tak satupun aku temukan rok di lemari pakaianku *nyengir . Perjalanan spiritual sang gadis tomboy menuju hidayah itu dimulai sejak aku duduk di bangku SMA.

Sebuah karunia terbesar sepanjang hidupku adalah ketika aku dilahirkan di tengah-tengah keluarga muslim. Aku berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahku merupakan seorang pegawai negeri sipil biasa, dan ibuku membantu menopang perekonomian keluarga dengan berjualan makanan kecil-kecilan. Aku bukanlah puteri satu-satunya di keluarga ini, karena aku memiliki dua orang adik perempuan dan seorang adik laki-laki. Praktis, orangtuaku harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kami dan biaya sekolah empat orang anak.

Sejak kecil aku memang suka membaca. Sudah hal biasa bagiku menghabiskan jam-jam istirahat di sekolah untuk melahap koleksi buku di perpustakaan sekolah. Ketika smp dulu, aku selalu menyisihkan waktuku untuk mampir ke perpustakan bahkan saat ujian sekolah sekalipun. Kalau pelajar lain biasanya membaca materi ujian untuk hari selanjutnya selepas mengerjakan soal ujian hari itu, aku justru betah nangkring berjam-jam di perpustakaan untuk membaca novel, komik atau ensiklopedia, nah lho ?  yeah, that’s my way *manyun

Aku butuh menyegarkan kembali otakku setelah menghadapi ujian dengan membaca buku ”non pelajaran” . Mengosongkan memory otakku dari sisa-sisa pelajaran yang baru saja dilalui dengan membaca novel, komik atau ensiklopedia, untuk kemudian mengisinya kembali dengan data baru materi pelajaran yang akan diujikan esok hari. Justru ketika pelajar lain terlelap berselimut mimpi, aku terbangun tengah malam yang hening untuk sholat dan kemudian belajar. Sembari menemani ibuku menyiapkan dagangannya esok hari. Setelah sholat subuh, aku kembali tidur sejenak sebelum berangkat sekolah.

Tapi semenjak di SMA, kebiasaanku nangkring di perpustakaan harus pupus. Karena perpustakaan di sma hanya diisi buku-buku materi pelajaran. Tak ada novel apalagi komik. Paling banter ya koran bekas, fiiuuhhh... nggak seru

Akhirnya aku memilih menyibukkan diri dengan kegiatan extrakurikuler dan organisasi. Karena aktif di organisasi inilah, hampir semua siswa di sekolah mengenalku. Bukan karena kecantikan dan pesonaku *wek, tapi justru karena gaya tomboy dan cuek yang luar biasa. Pernah suatu ketika aku harus tampil nge-dance di sebuah acara sekolah, aku harus meminjam kostum dari seorang teman. Sayangnya, satu-satunya kostum yang tak terpakai dan bisa aku pinjam justru “koploh-koploh” alias kebesaran. Tapi demi profesionalitas, aku terpaksa tampil dengan kostum yang kedodoran dihadapan seluruh siswa di sekolah. Ditengah-tengah perform, aku terpaksa berkali-kali membetulkan celanaku yang melorot dengan cueknya. Tingkah konyolku sontak menjadi perhatian seluruh penonton. Ada yang bengong, ada juga yang tepok jidat, tapi lebih banyak yang tertawa terpingkal-pingkal. Sementara aku, hanya nyengir kuda saat turun dari panggung. So what gitu lho ?

Atau dengan tengil-nya mengubah gerakan senam sesukaku saat menjadi instruktur senam pagi diatas podium pembina upacara diikuti seluruh siswa di lapangan sekolah yang kebingungan. Lebih parah lagi, aku pernah diarak keliling sekolah bak pengantin sunat ketika mencoba mengenakan rok ke sekolah diluar jam sekolah. Itupun rok hibah dari tanteku waktu baliau muda dulu. Finally, sang rok harus ikhlas kembali “nangkring manis” sebagai penghuni abadi lemari pakaianku. Rasanya kapok setengah mati. Bukan karena capek keliling sekolah, karena lari memutari lapangan lima kali tanpa henti pun aku biasa, tapi malunya itu lho..

Usaha memanjangkan rambut pun gagal total. Waktu itu, dengan semangat empat lima aku berniat memanjangkan rambut cepakku agar terlihat lebih feminin. Semua tips yang katanya bisa membuat rambut indah berkilau bagaikan para bintang shampo aku lakukan. Mulai dari cem-ceman seledri sampai masker telur ayam aku terapkan demi memiliki rambut panjang idaman. Walaupun harus menahan malu karena menerima bonus “bau amis” yang menempel di rambut hingga berhari-hari. Membuat semua orang yang lewat disebelahku menengok sambil tutup hidung. Dan perjuangan itu berbuah manis karena rambutku mulai panjang hingga sebahu. Tapi itupun tak bertahan lama. Karena pada suatu hari, saat menunggu angkutan umum didepan sekolah, seorang teman lama yang tak sengaja lewat didepanku dan  melihatku menjerit histeris sambil menunjuk ke arahku, “wow Yuli ya ???? ih sekarang feminin. rambutnya panjang ..”

Lagi-lagi, aku menjadi tontonan gratis. Orang-orang disekelilingku mau tak mau menengok ke arahku. Hiks..peristiwa itu dengan sempurnanya mampu membuatku berfikir untuk kembali memotong pendek rambutku. Khawatir ada korban lagi yang terkena serangan jantung melihat rambut panjangku. Gubraks. Separah itukah tomboy ku ?

Hingga suatu hari, seorang guru agama meminta kami menyumbangkan satu buku setiap siswa untuk melengkapi “perpustakaan mini”-nya. Bukan seperti perpustakaan pada umumnya, tapi hanya sebuah rak buku yang berdiri di pojok ruang guru. Dan, buku yang disumbangkan harus bernafaskan islami. Semua siswa boleh meminjam disana dengan mendaftar dan mengisi kartu anggota. Bagiku, ide itu bagaikan hembusan angin segar di padang gersang. Walaupun koleksi bukunya bukan novel, komik atau buku ensiklopedi seperti yang sering kubaca. Lumayan, untuk menyalurkan hasrat terpendamku selama ini.

Alhamdulillah, antusiasme siswa yang besar membuat perpustakaan mini itu dipenuhi banyak buku, tidak kosong melompong seperti sebelumnya. Dan akupun menjadi salah satu anggota  yang aktif meminjam buku disana. Dari sinilah pengetahuan agamaku bertambah, semakin banyak ilmu yang kuperoleh dari aktivitas baruku. Aku mulai banyak mengurangi aktivitas extrakurikuler dan organisasiku. Pada jam istiriahat, aku lebih memilih menyepi di sudut kelas sembari menyelami isi setiap buku yang kubaca.

Semakin sering aku membaca buku-buku islami tersebut, ada kerinduan yang tumbuh di dalam kalbu. Keinginan menyempurnakan imanku sebagai seorang muslimah dengan menjalankan perintah menutup aurat. Setiap harinya keinginan itu semakin kuat mengakar menghujam ke relung hatiku. Hidayah memang harus dicari. Termasuk menjalankan perintah-NYA berhijab tanpa “tapi”. Namun, aku terpaksa memendam keinginanku dalam-dalam. Aku sadar, keputusanku berhijab akan berdampak pada banyak hal. Ada biaya yang harus dikeluarkan untuk mewujudkan keinginanku ini. Dengan keadaan ekonomi keluargaku saat itu, tentu saja aku tak ingin menambah beban  kedua orangtuaku. Ketiga orang adikku masih sama-sama di bangku sekolah dan membutuhkan biaya. Tidaklah bijak rasanya aku memaksakan kehendakku kepada kedua orangtuaku. Saat dengan mata kepalaku sendiri aku saksikan mereka bekerja keras, banting tulang setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan pokok dan membiayai sekolahku dan ketiga adikku. Nyanyian kerinduan itu, semakin membuncah mengusik fikiranku. Sebuah do’a terselip di setiap sholatku, Ya Rabb karuniakanlah keajaiban itu padaku.

Jauh beberapa bulan yang lalu sebelum keinginanku untuk berjilbab hadir, aku mengirimkan pengajuan beasiswa kepada pemerintah daerah untuk putera-puteri PNS daerah yang berprestasi. Namun berbulan-bulan pengumuman nama-nama penerimaa beasiswa itu tak kunjung datang. Aku sudah hampir melupakan pernah mengirim pengajuan itu. Karena kupikir, aku bukan termasuk salah satu murid penerima beasiswa. Hingga sebuah berita besar mengejutkanku. di suatu sore, sepulang menjemput rizki ayahku mengabarkan berita gembira bahwa aku berhasil menjadi salah satu penerima beasiswa. Alhamdulillah.

Keesokan paginya, dengan gembira plus deg-degan aku berangkat menuju tempat penyerahan beasiswa bersama ayahku mengendarai motor satu-satunya milik keluarga. Aku tak menyangka harus naik keatas podium, disaksikan banyak orang dan difoto oleh paparazi layaknya selebriti ketika menerima dana beasiswa. Dan sebuah amplop coklat beserta piagam penghargaan kuterima dengan tangan gemetar. Setelah amplop berwarna coklat itu kuterima, dengan segenap keberanianku aku mengutarakan keinginanku untuk berhijab dan meminta izin kepada ayah untuk menggunakan uang beasiswa tersebut untuk membeli seragam sekolah dan jilbab. Aku tak berani membelanjakannya sesukaku sebelum meminta izin beliau, karena kupikir mungkin ada keperluan lain yang lebih mendesak dan memerlukan uang beasiswaku untuk membantu. Apalagi saat itu aku baru menginjak kelas 2 SMA, baru setahun yang lalu beliau mengeluarkan biaya untuk membeli seragam sekolahku. Diluar dugaan, wajah bijak dihadapanku menggangguk sembari tersenyum. Ada sesuatu yang hangat mengalir dari balik kelopak mataku, dadaku sesak. Aku tak mampu mendeskripsikan perasaanku saat itu. Bahagia, haru dan masih tak percaya. Segera aku menghambur memeluk tubuh tegap dihadapanku. “Maka nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan ?”. Saksikanlah wahai Rabbku, ku sambut hidayah-MU ini dengan takbir. Allahuakbar !

Karena uang dari beasiswa tersebut hanya cukup untuk dibelikan tiga potong rok sekolah dan tiga potong jilbab, aku harus memutar otak untuk melengkapi pakaian sekolahku hingga layak kukenakan. Alhamdulillah, melihat keinginan kerasku seorang kerabat menyumbangkan sebuah kemeja putih berlengan panjang untuk atasan seragam osis. Sementara baju pramuka dan atasan batik, aku bawa kepasar untuk membeli kain dengan bahan yang serupa. Bukan untuk membuat sebuah baju utuh, tapi hanya sepotong kecil untuk setiap bahan seukuran dua pasang bahu untuk kemudian disambungkan ke seragam yang lama. Dan, Taraaaaammm...Tiga stel seragam sekolah siap launching. Aku tak peduli warna baju berbeda dengan lengannya . Warna bajunya sudah belel karena sudah melalui proses cuci setrika selama setahun lebih sementara di bagian lengan masih kinclong dan bau pabrik. Toh, nanti sambungannya tertutupi jilbab juga, hehe...

Keesokan harinya, aku memulai hari baruku dengan mengenakan jilbab ke sekolah. Entah sudah berapa pasang mata tercengang sambil terbengong-bengong melihat si tomboy ini dengan penampilan barunya. Beberapa teman menghampiri sambil melongo dan mencubit pipinya sendiri. Sementara aku, tersenyum manis penuh pesona, bukannya nyengir kuda seperti biasanya. Eh ? Tak sedikit juga temanku yang sebelumnya sudah berhijab menghampiriku, memelukku dan memberikan selamat kepadaku. Dan kami berpelukan penuh haru.

That’s my new life as a “muslimah”. Walaupun aku belum mampu mengganti semua celana panjangku dengan rok yang lebih syar’i. Tapi paling tidak, inilah titik awal aku mengubah diriku perlahan menjadi seseorang yang lebih baik. Paling tidak, sejak saat itu aku tak lagi membuka auratku kepada selain muhrimku. Juga merelakan impianku menjadi seorang paskibraka dan meninggalkan masa jahiliyahku karena Allah.

Barulah setelah aku menerima beasiswa untuk melajutkan kuliah S1 dan mendapatkan insentif bulanan sebagai mahasiswa ikatan dinas di sebuah universitas, aku mulai mencicil membeli rok, pakaian dan jilbab syar’i dari hasil jerih payahku sendiri. Dan sejak saat itu, aku benar-benar menyempurnakan penampilanku dengan berhijab syar’i. Koleksi jilbab, gamis dan rok di lemari pakaianku makin bertambah karena sesekali aku mendapat uang tambahan dari mengajar lepas, asisten dosen atau sekedar menjual sistem informasi. Menghiasi hari –hariku dengan mengikuti kajian-kajian keislaman. Dan hidayah ini makin erat memelukku, insyaalloh.

Disaat para pejuang feminis dan liberalis menganggap bahwa hijab membelenggu kebebasan kaum perempuan, mereka menganggap hijab merupakan suatu bentuk keterbelakangan. Justru islam membuktikan betapa Allah memuliakan para wanita muslimah dengan berhijab. Menjaganya dari tatapan liar dan pandangan syahwat bukan muhrimnya. Hijab menunjukan keanggunan dan keindahan wanita muslimah hanya diperuntukkan bagi yang layak menikmati nya, melalui sebuah perjanjian agung bernama “Mitsaqon Ghaliza” . Bukan justru diumbar dengan murah, membiarkan setiap pasang mata menikmati dengan mudahnya .

Sesungguhnya manusia pada masa zaman purba telajang, dengan berkembangnya pemikiran melewati berbagai zaman, maka manusia mulai memakai pakaian. Seperti adam dan hawa yang diturunkan oleh Allah dari kenikmatan surga ke dunia ini dalam keadaan telanjang, kemudian mereka malu dan menutupi aurat mereka dengan dedaunan. Dan hijab adalah sebuah puncak pemikiran, dan tingkatan tertinggi yang telah dicapai manusia setelah melalui berbagai masa dan bukanlah bentuk keterbelakangan. Adapun "buka-bukaan" adalah bentuk keterbelakangan dan kemunduran pemikiran manusia ke zaman purba. Kalau seandainya "buka-bukaan" adalah bentuk kemajuan, maka yang paling maju adalah binatang!

Aku bangga menjadi seorang muslimah. Aku bangga seluruh dunia menyaksikan bahwa aku seorang muslimah. Dengan sebaik-baik pakaian taqwa yang Allah pilihkan bagi kami para muslimah adalah dengan berhijab syar’i. Isyhadu bi anna muslimah...

Ya Rabb, Janganlah kau palingkan aku setelah kau muliakan aku dengan hidayah-MU. Aku berjanji akan memegang hidayah ini sekuatku, semampuku. Tak akan kulepas hijabku hingga akhir hayatku, InsyaAlloh


--Alza Yulia, Maret 2014--
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...