28 February 2014

Hijab Gone Wrong (?)

Setelah sekian lama tulisan ini nangkring dengan damainya di hardisk pc tersayang, akhirnya terwujud juga bisa diposting di mari. Berawal dari keprihatinan tentang fenomena hijab gaul yang makin sering 'ngelilipi' mata di jalanan.
 
1. Jilbab/ Hijab apa sih ?

Nggak dipungkiri lagi, di indonesia sekarang mode jilbab sedang nge-trend. Yang sekarang lebih populer dengan istilah ‘HIJAB’. Dengan mudah wanita muslim yang berjilbab kita temui dimana-mana. Semasa kuliah dulu, entah sudah berapa teman kuliah yang akhirnya memutuskan untuk berhijab. Seiring berjalannya waktu, model hijab juga berkembang sedemikian pesat. Komunitas para wanita berjilbab bertebaran bak jamur dimusim hujan. Di satu sisi, perkembangan yang positif karena makin banyak wanita muslim yang mau menutup aurat. Diharapkan setelah berhijab, semuanya mengalami perubahan baik sikap maupun pemahaman keislamananya. Tapi disisi lain, saking pesatnya justru perkembangan mode hijab ini belakangan jadi makin nggak beraturan.

Katanya, tak kenal maka tak sayang. So, sebelum kita ngobrol ngalor ngidul tentang hijab ada baiknya kita kenalan dulu sama asal-usul si”Hijab”. Supaya nggak salah mengartikan apalagi sampai salah kaprah.

Di indonesia, masyarakat kita mengenal istilah kata ‘jilbab’ sebelum istilah ‘hijab’ populer dan booming seperti sekarang. Nah, yang dimaksud dengan jilbab menurut masyarakat kita adalah penutup kepala dan leher bagi wanita muslimah yang dipakai secara khusus dan dalam bentuk yang khusus pula. Lalu bagaimanakah kata ‘jilbab’ muncul dan digunakan dalam masyarakat arab khususnya pada masa turunnya Al Quran kepada Rasulullah Saw dalam surat Al Ahzaab ayat 59 ?. Apa yang dimaksudkan Al Quran dengan kata ‘jalabiib’ bentuk jamak (plural) dari kata jilbab pada saat ayat kata itu digunakan dalam Al Quran pertama kali ? Sudah samakah arti dan hukum memakai jilbab dalam Al Quran dan jilbab yang dikenal masyarakat Indonesia sekarang ?

Arti kata jilbab ketika Al Quran diturunkan adalah kain yang menutup dari atas sampai bawah, tutup kepala, selimut, kain yang di pakai lapisan yang kedua oleh wanita dan semua pakaian wanita. ini adalah beberapa arti jilbab seperti yang dikatakan Imam Alusiy dalam tafsirnya Ruuhul Ma`ani.

Imam Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan; Jilbab berarti kain yang lebih besar ukurannya dari khimar (kerudung), sedang yang benar menurutnya jilbab adalah kain yang menutup semua badan.

Dari atas tampaklah jelas kalau jilbab yang dikenal oleh masyarakat indonesia dengan arti atau bentuk yang sudah berubah dari arti asli jilbab itu sendiri, dan perubahan yang demikian ini adalah bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah sebab perjalanan waktu dari masa Nabi Muhammad Saw sampai sekarang atau disebabkan jarak antar tempat dan komunitas masyarakat yang berbeda yang tentu mempunyai peradaban atau kebudayaan berpakaian yang berbeda.
Sedangkan makna hijab itu sendiri dalam bahasa arab berarti tutup. Yaitu, semua yang dimaksudkan untuk mengurangi dan mencegah terjadinya fitnah jinsiyah (godaan seksual) baik dengan menahan pandangan, tidak mengubah intonasi suara bicara wanita supaya terdengar lebih menarik dan menggugah, menutup aurat dan lain sebagainya, semuanya ini dinamakan hijab bagi wanita. Nah, dari sini sudah faham khan bedanya arti kata jilbab, khimar dan hijab ?

Ada sebagian orang yang berpendapat kalau berjilbab hanya merupakan tradisi masyarakat arab. Nggak salah juga sih kalau dibilang begitu, karena Rasulullah SAW khan memang orang keturunan arab dan lahir di arab. Tapi ada baiknya kita coba simak lagi perintah Allah SWT tentang perintah berjilbab.
Allah Swt dalam Al Quran berfirman:
عليهن من جلابيبهن ياايهاالنبى قل لأزواجك وبناتك ونساءالمؤمنين يدنين ذلك أدني أن يعرفن فلا يؤذين وكان الله غفورارحيما (الأحزاب 59)
Artinya:Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang.(Al Ahzab.59).

Rasulullah SAW merupakan ‘Rahmatan lil ‘alamin’ yang artinya rahmat bagi seluruh alam. Dan ajaran yang dibawanya berlaku universal untuk semua kaum muslimin lho ! karena Alqur’an ada sebagai pedoman seluruh umat muslim. Apalagi dalam surat Al-ahzab ayat 59 Allah SWT menyebutkan ‘ dan istri-istri orang-orang mukmin’. Jadi bukan bangsa arab saja yang diperintahkan Allah SWT untuk berjilbab, melainkan kita semua yang mengaku sebagai muslimah.

2.  Fenomena hijab ‘centil’

Maraknya penggunaan jilbab diikuti industri fesyen Islami yang juga berkembang pesat. Di pasar Tanah Abang misalnya, kini telah menjadi pusat perdagangan pakaian Islami internasional. Indonesia dikenal sebagai pusat mode hijab dunia, harus diakui perkembangan gayanya jauh lebih dinamis dan kreatif daripada yang di Turki, Mesir dan Iran. Tak heran jika kemudian Jakarta pun menjadi trendsetter pusat mode busana Muslim. Malaysia yang pemakai jilbabnya jauh lebih dulu membudaya dan populer masih kalah jauh dalam hal dinamika fesyen jilbabnya. Hal ini termasuk merebaknya majalah-majalah yang memaparkan mode-mode pakaian Islami. Di panggung hiburan, jilbaber tidak lagi asing. Kalau dulu hanya penyanyi kasidah, kemudian dangdut, pop, bahkan kemudian rock, dan jenis-jenis musik cadas seperti metal. Aktris berjilbab, fotomodel berjilbab, dan bintang iklan berjilbab. 

Belakangan makin banyak kita jumpai model jilbab yang mengalami modifikasi. Kalau dulu cuma rambut yang bisa dibuat berbagai macam gaya, sekarang model jilbab pun nggak mau kalah. Dari model jilbab kepang sampe ‘sarang tawon’. Makin amburadul dianggap makin gawul. 

 Mungkin, pada awalnya modifikasi jilbab ini dilakukan untuk menarik wanita muslim untuk berjilbab. Dengan pemikiran, jilbab model sekarang bisa membuat si pemakainya keliatan ‘update’ dan bisa menjawab keresahan para wanita muslim yang pengen berjilbab tapi takut nggak bisa keliatan modis lagi atau takut dibilang ketinggalan zaman. Tapi lama kelamaan, laju  modifikasi jilbab terkesan makin nggak karuan dan jadi nggak sesuai dengan perintah awal berjilbab. Semestinya, sebuah perangkat agama digunakan sesuai dengan perintah agama tersebut. Namun pada kenyataannya, sekarang ini jilbab justeru dijadikan komoditas mode.

a.   Hijab seperti punuk unta

Suatu hari, saat sedang berjalan-jalan di sebuah mall seringkali tertangkap mata wanita-wanita muslimah berjilbab bersliweran dengan model jilbab yang dibelakang kepalanya terlihat ada tonjolan yang cukup menarik perhatian. Teman disebelahku tiba-tiba nyeplos dengan polosnya “Emang enak ya ada cepolan tinggi githu nangkring diatas kepala ?”. Tentu saja aku tak tahan menahan geli. Kalau dulu model cepol hanya digunakan untuk sanggul atau konde-konde ibu-ibu kondangan, sekarang juga diadopsi oleh wanita-wanita muslimah untuk model jilbabnya. 

Contoh model jilbab punuk unta
Bukan bermaksud skeptis pada si pemakai model jilbab cepol ini, tetapi mungkin mereka benar-benar tidak tahu bahwa ada larangan bagi wanita muslimah untuk menggunakan hiasan di kepala yang menyerupai punuk unta.

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah yang cukup panjang, Rasulullah bersabda:
“Ada dua golongan dari umatku yang belum pernah aku lihat: (1) suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul orang-orang dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring (seperti benjolan*). Mereka itu tidak masuk surga dan tidak akan mencium wanginya, walaupun wanginya surga tercium sejauh jarak perjalan sekian dan sekian” (HR. Muslim)

Sebagian ulama menafsirkan kata مائلات مميلات maksudnya orang-orang yang  merangkai rambutnya dengan gaya rambut miring (seperti benjolan*). Pada zaman dahulu, gaya rambut seperti ini merupakan gaya rambut para pelacur atau gaya rambut wanit-wanita eropa yang kemudian diikuti oleh kaum muslimin. Jadi Gals, walaupun tertutupi jilbab, sejatinya wanita muslimah dilarang menggunakan hiasan semacam punuk unta ini. Apalagi saat ini nggak perlu rambut panjang untuk membuat cepolan diatas kepala, para produsen jilbab justeru membuat model jilbab yang memang sudah ada cepolan di bagian belakangnya dengan tujuan mensiasati para muslimah yang nggak berambut panjang tapi pengen gaya cepolan. Malah makin jelas keharamannya, karena tujuannya untuk menipu. Ironisnya, model yang seperti ini justru laris manis bak kacang goreng diserbu peminatnya.

Nggak mau khan niat kita melakukan ibadah jadi mubadzir ? Atau malah tekor karena bukannya berbuah pahala malah justru mendatangkan dosa, naudzubillah.

b.  Hijab menyerupai kaum non muslim

Ada lagi model jilbab yang nggak kalah rame pemakainya. Di kalangan jilbaber juga ngetrend model jilbab yang biasa dipanggil Hoddie ini. Model jilbab yang terkesan dua rangkap, dibagian dalamnya menggunakan semacam penutup kepala ninja hingga leher yang fitted dan tetap memperlihatkan bagian lekukan leher ditambah dengan selembar kain yang ‘berslawir-ria’ diatas kepala hingga ke samping kepala dan bahu. Mungkin tujuannya agar model jilbab nggak terkesan monoton dan itu-itu saja. Tapi coba kita perhatikan kembali, bukankah itu sangat mirip dengan model jilbab para biarawati dalam film-film telenovela ? Bisa jadi, si perancang gaya jilbab seperti ini terinspirasi karena sering nonton film telenovela, hehehe..

Contoh penutup aurat para biarawati

Sadarkah wahai saudari-saudariku muslimah, bahwa jilbab yang kita gunakan sejatinya menjadi identitas diri sebagai wanita muslimah. Dengan meniru apalagi mengadopsi gaya penganut agama lain, malah justru secara tidak langsung men-’syiar’kan budaya agama lain. Hati-hati, jangan sampai celaan Nabi kita dialamatkan kepada kita melalui sabdanya: 
“Siapa saja yang menyerupai suatu kaum (gaya hidup dan adat istiadatnya), maka mereka termasuk golongan tersebut.” (HR. Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar).

Rasulullah saw, orang yang paling mulia dengan tegas memperingatkan kita agar jangan mengikuti pola hidup (budaya) kaum atau bangsa lain, sebagaimana sabdanya: “Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku menerima (mengikuti) apa-apa yang dilakukan oleh bangsa-bangsa terdahulu (pada masa silam), selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta.” Di antara saha­bat ada yang bertanya: “(Ya Rasulullah) apakah yang dimaksud (di sini) seperti bangsa Persia dan Romawi?” Rasulullah saw menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)” (HR. Bukhori, dari Abu Hurairah).

So, akan lebih baik bila gaya berjilbab kita nggak latah meniru gaya menutup aurat wanita non muslim. Berbanggalah tampil sebagai muslimah yang memiliki jati diri yang kuat. 

c.   Fenomena Legging di kalangan kaum wanita muslimah

Tak jarang juga kita melihat muslimah berjilbab yang mengenakan celana panjang yang skinny atau istilah kerennya celana legging. Mereka berlenggang santai ditengah keramaian memperlihatkan bentuk dan lekukan kaki bahkan betisnya. Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita kenalan dengan dulu dengan si celana skinny yang sekarang sedang digandungi ini.
Celana legging yang identik dengan celana senam ini awalnya merupakan celana penghangat dan pelindung, dan dipakai pertama kali oleh kaum pria di Eropa sejak abad 14 sampai 16 (zaman Renaissance). Sementara di Amerika, beberapa penduduk asli menggunakan kulit rusa jantan sebagai bahan dasar legging yang mereka pakai. Kenapa ? Karena kulit rusa jantan yang tebal dan halus dipercaya dapat menghangatkan di udara dingin. Hingga kini di beberapa tempat, khususnya di Negara yang beriklim dingin seperti Rusia, kaum pria tetap memakai legging sebagai penghangat. Pada pertengahan abad ke 19 barulah legging digunakan oleh kaum wanita. Legging yang mereka gunakan biasanya berbahan linen dengan detail renda. Tahun 1940, tepatnya pada perang dunia ke II, para prajurit perang juga menggunakan legging yang berfungsi sebagai pelindung dari kotoran dan binatang berbahaya yang dapat menerobos masuk ke dalam pakaian dan sepatu mereka. Selain itu para prajurit ini menggunakan legging untuk melindungi meraka dari kecelakaan seperti cidera sendi dan lainnya. Walaupun sama-sama legging, military legging panjangnya setengah betis dan lebih mirip dengan legging yang dipakai kaum pria di abad 14-16. bahannya terbuat dari kanvas dengan lilitan tali di sampingnya.

Saudaraku muslimah, sadarkah kita bahwa sejatinya berjilbab itu berarti menutup aurat agar terjaga dari pandangan yang haram, dan bukan ‘membalut’ aurat. Karena dengan mengenakan baju dan celana yang ketat akan dapat dengan jelas memperlihatkan bentuk lekukan tubuh. Allah swt memerintahkan kita kaum muslimah untuk menjulurkan pakaiannya..


3.   Hijab sebagai bentuk ketaatan seorang muslimah
 
Pernah ada seorang teman non muslim yang mengungkapkan keprihatinannya melihat fenomena jilbab ‘centil’ ini. Dengan gaya bahasanya, beliau mengungkapkan kekhawatirannya bila trend berhijab ini juga merambah trend di agamanya. Misalnya, akan ada trend memakai kalung salib seperti kaos gambar salib, gelang dengan bandul salib dan lain sebagainya bertema salib karena teman tersebut beragama nasrani. Sebagai penganut nasrani, beliau merasa senang kalau makin banyak ummat agama mereka menggunakan simbol agama mereka ini. Namun, akan berbeda keadaannya kalau akhirnya makin banyak orang menyalahgunakan pemakaian gambar salib tersebut. Misalnya muncul motif salib terbalik ( yang menurut kepercayaan mereka adalah simbol anti-kritus), atau salib yang dibuat macam-macam modelnya sehingga esensi kesucian simbol agama tersebut malah hilang. Begitupun halnya dengan penggunaan jilbab yang semakin hari semakin jauh dengan kaidah pemakaian jilbab yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Lama kelamaan, ada kekhawatiran pemakain jilbab bukan untuk semakin mengimani agama islam tetapi hanya sekedar gaya-gayaan. Perempuan muslimah menggunakan jilbab bukan sebagai tanda kepatuhan terhadap perintah Allah swt, tetapi cuma karena hijab sedang nge-trend. Lantas, bila suatu saat trend hijab ini hilang, mau diapakan muslimah-muslimah yang menggunakan hijab hanya sebagai aksesoris semata itu ? Apakah lantas dilepas hijabnya ? Wallahua’lam bishowab.

Terlepas dari fenomena hijab gaul yang memprihatinkan, kita harus tetap memberikan apresiasi positif kepada saudari-saudari muslimah yang mungkin ‘keblusuk’ atau terlanjur mengikuti mode hijab yang ternyata belum sesuai dengan yang disyaria’atkan karena mereka belum mengerti. Untuk membuat sebuah garis maka diperlukan sebuah titik. Memulai membiasakan diri menutup aurat dengan berjilbab juga merupakan suatu titik sebagai awal yang baik bagi muslimah untuk seterusnya konsisten menjalankan perintah Allah swt tersebut, insyaalloh. Semoga juga bisa memberi refleksi bagi para muslimah yang sudah berhijab dan belum berhijab untuk meluruskan niat dan kembali pada kaidah-kaidah yang sesuai dengan ajaran islam.

Mengulik bagaimana cara berjilbab yang syar’i menurut alqur’an, ternyata islam nggak kaku-kaku banget kok, Gals. Allah swt menyukai keindahan. Kita bisa tampil islami tapi tetap rapi dan elegant. Tampil elegant juga nggak harus seperti toko emas berjalan, blink2 dan malah terkesan berlebihan. Pernah khan liat muslimah yang berpakaian muslimah sederhana tetapi tampak rapi dan anggun ? Nah, mungkin bisa memulai bertanya kepada muslimah tersebut cara memadu padankan pilihan warna dan bentuk baju yang tepat dibadan kita tanpa harus memperlihatkan lekuk tubuh. Cara seperti ini juga bisa menjadi sarana silaturahim dan saling mengenal antara sesama muslimah lho, so sweet... Actually, you can have the best of both worlds. Menjalankan perintah Alloh dengan taat dan tetap tampil indah dimata manusia. Why Not ?


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...