16 February 2014

[ Chap #1] Badai Tak Terduga

Masih segar diingatanku, peristiwa tak terlupakan sepanjang nafas yang Allah berikan.
Sore itu, tanggal 2 Juli 2013..
Fathan kecilku terlihat gelisah, padahal sejak pagi terlihat lebih ceria dari biasanya. Senyum mungilnya tak henti tertangkap mataku diselingi celoteh riangnya. Makanan yang aku suapi pun dengan lahap di santapnya. How funny ‘n cute my lil boy..

Namun tiba-tiba semua berubah sejak sore itu..
Fathan kecilku menangis kencang tepat ketika adzan maghrib berkumandang. Tangisnya tak henti walau sudah kugendong. Aku Berusaha menenangkan tangisnya dengan pelukan hangat diselingi do’a –do’a yang kubisikkan lirih di telinganya. Tapi tangis fathan kecilku tak kunjung reda, aku mulai khawatir. Tiba-tiba disela tangisnya, Fathanku muntah cairan berwarna kuning, tanpa ampas. Sejenak kemudian, kembali tenang dan tertidur. Sepuluh menit kemudian kejadian berulang, fathan menangis kencang, kemudian muntah dan tertidur. Begitulah terus menerus hingga jam dinding menunjukan pukul 19.30 WIB.

Aku mulai menangkap gejala yang tidak beres. Saat itu juga aku dan suami plus duo kakak segera menuju RS. BHAKTI ASIH Ciledug. Dari perjalanan hingga UGD fathanku terus2an muntah cairan kuning kehijauan setiap 10 Menit sekali. Aku mulai panik, ditambah sejak menangis yang pertama fathan sudah tidak mau minum asi dan sejak saat itu pula senyuman yang senantiasa tersungging di bibir mungilnya hilang. 
Praktis, tubuhnya kian melemah. Aku putuskan fathan harus segera dirawat karena khawatir dehidrasi. Walau hanya berselang beberapa jam setelah muntahnya yang pertama. Sejak sore tadi terus-terusan muntah sementara tak ada asupan makanan yang masuk. Sayangnya, setibanya di RS Bhakti Asih seluruh ruang rawat inap penuh. Tanpa pikir panjang, kami segera menuju RS. SARI ASIH ciledug karena itu RS terdekat dari rumah, aku makin cemas karena kulit fathanku terlihat kian memucat.

Sesampainya di UGD  RS. Sari Asih dan menyelesaikan administrasi, Fathanku segera diinfus.
Rabb, Selamatkan malaikat kecilku. Hatiku sedikit tenang karena Fathan kecilku sudah dirawat dan dalam pengawasan tenaga medis. Walau hingga detik ini aku tak tahu apa yang terjadi dengan lelaki kecil kami.
Fathan kelihatan sangat lemas setibanya di UGD RS. Sari Asih Ciledug

Setelah selang infus terpasang
Namun, hingga pagi menjelang kejadian berulang setiap 10 menit itu tetap berlangsung. Bahkan, fathan kecilku sepertinya memilih posisi tengkurap dengan bokong diangkat keatas. Aku iba melihat tubuh kecilnya terus merasa kesakitan dan muntah cairan kuning kehijauan tanpa henti. Kesakitan yang entah apa. Aku bingung harus melakukan apa saat menyaksikan malaikat kecilku ini menangis menahan sakit setiap serangan "aneh" itu datang. Ya Rabb, sungguh tak tega aku mendapati bayi mungilku tampak demikian tersiksa.

Posisi tidur yang sepertinya nyaman bagi fathan saat itu :(
Saat subuh, aku kaget setengah mati karena mendapati banyak darah segar dan mengental di popoknya. Ditambah pelayanan rumah sakit yang aku nilai sangat lambat dan tidak tanggap. Baru pukul 12.00 WIB hasil lab keluar dan positif "darah" yang didapati pada feses Fathan. Diagnosa sementara DSA Fathan terkena infeksi saluran pencernaan yang mengakibatkan ususnya mengalami pendarahan. Dan, saat itu kami hanya mampu mempercayakan perawatan Fathanku pada tenaga medis disana.
Hari terus berlalu hingga 2 hari malaikat kecilku terbaring di kamar rawat inap, senyumnya belum juga kami dapati. Muntah setiap 10 menit pun masih terjadi. Hal paling menakutkan yang harus aku hadapi saat itu adalah ketika aku harus mengganti popoknya. Darah segar masih selalu memenuhi setiap kali popoknya diganti.


4 Juli 2013,
Kondisi jagoanku tak kunjung membaik. Masih sama seperti 2 hari yang lalu. Diagnosa DSA masih sama, INFEKSI SALURAN CERNA.
Saat DSA visit ke ruangan, aku mencoba menanyakan mengenai perlukah dilakukan rongent atau USG untuk benar-benar memastikan kondisi kesehatan Fathan. Sang dokter itu tetap bertahan tidak perlu karena tidak ada tanda2 bengkak di perut Fathanku.
Hingga semua berbalik ketika aku perlihatkan bagian ulu hati Fathan yang teraba agak keras. Siang itu juga Fathan melakukan foto abdomen 3 posisi, dan hasilnya “INVAGINASI USUS TAK TERHINDARKAN”.
Setelah itu, hasil USG pun menyatakan Fathan positif “INVAGINASI USUS”.
Bergegas aku nyalakan laptopku. Bertanya pada google mengenai apa itu invaginasi usus. Aku pun tak percaya Fathan terkena invaginasi, karena selama 6 bulan usianya hanya asi exclusive yang diberikan. Tahap pemberian makanan pun selalu dipantau dan disesuaikan dengan usianya. Hanya 2 kemungkinan penanganannya, BARIUM ENDEMA atau BEDAH. Dokter menyatakan sudah tidak mungkin dilakukan selain melalui pembedahan karena sudah berlagsung lebih dari 2x24 jam sejak gejala awal terlihat. Seharusnya 1x24 jam invaginasi usus sudah bisa terdeteksi karena tanda-tandanya yang khas dan segera dilakukan pembedahan mengurai usus yang terjepit.
WHAT ???? kuhitung jemariku, bukankah sudah 2 hari Fathan dirawat dengan diagnosa INFEKSI SALURAN CERNA ??? ...
Dan anehnya, walaupun sudah jelas harus dilakukan operasi pembedahan. Tidak ada reaksi tanggap dari pihak rumah sakit.

Pkl. 21.00 WIB aku mulai menyadari ada yang aneh dengan malaikat kecilku yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajahnya tampak tenang. Serangan “aneh” setiap 10 menit itupun seolah tidak lagi dirasakan. Yang mengusik pikiranku adalah pergelangan tangannya yang terlihat membengkak sejak sore. Berkali-kali aku harus membenarkan posisi tangan dan selang infusnya agar tetesan infusnya mengalir melalui pembuluh darah kecilnya. Berulang kali aku mencoba menghubungi para perawat  yang bertugas saat itu untuk mengecek kondisi infusnya, tapi jawabannya selalu sama “Baik-baik saja”.
Berkali-kali aku mencoba untuk bersabar dan tenang menghadapi para perawat di rumah sakit yang belakangan aku nilai “TAK PROFESIONAL” ini. Tapi kali ini aku rasa aku gagal. Dengan perasaan marah, cemas yang bercampur aduk aku datangi meja perawat dengan geram. Dengan nada bicara yang meninggi aku meminta mereka memeriksa Fathanku sekali lagi. Entah setan mana yang merasukiku, dengan menggebrak meja aku mengancam akan menuntut pihak Rumah sakit ini bila terjadi hal yang tidak diinginkan pada malaikat kecilku yang saat ini terbaring makin lemah.

Setengah berlari mereka mendatangi Fathanku yang lemah. Aku baru menyadari firasat burukku sedari tadi memang benar saat kudapati para perawat berkumpul dengan wajah panik. Beberapa dokter yang setelah 2 hari dirawat baru kelihatan batang hidungnya. Entah siapa mereka, mengerumuni jagoan kecilku yang terkulai lemah sambil berkata padaku untuk tetap berdo’a. Mereka bilang Fathan dehidrasi. Semakin memuncak kesalku karena sejak tadi sore aku bolak-balik ke meja perawat agar mereka mengecek infusnya dan ternyata sejak sore tadi asupan cairan ke tubuh mungilnya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Terakhir kulihat pandangan mata sayunya semakin kosong. Hanya terdengar suaranya lirih menahan sakit ketika para perawat menusuk tubuh mungilnya dengan jarum infus. Entah sudah berapa belas kali, tapi tak setetespun darahnya mengalir keluar.
Ya Rabb, duniaku saat itu terasa gelap. Baru kali ini aku merasa seolah seluruh ototku dilolos. Nafasku tercekat, degup jantungku bergemuruh.
Suamiku terduduk lemah di sudut ruangan, sambil memeluk dua bidadari kecil kami.
Saat itu, aku hanya sanggup bersujud. Berdo’a di sela tangisku, semoga kami masih diberi kesempatan melihatnya sembuh.

Setelah dirasa agak tenang, kami mencoba menelpon kesana kemari. Mencari rumah sakit yang mampu segera melakukan operasi. Namun kupikir tidak mungkin, saat ini fathanku dalam kondisi kritis.
Dengan menurunkan nada suaraku, aku memohon pihak rumah sakit SARI ASIH Ciledug untuk segera melakukan tindakan operasi karena saat itu hanya itu cara yang kami tahu. Kami diminta mengurus segala administrasi, WHAT ???? ADMINISTRASI ??? Kenapa tidak sedari siang tadi kami diminta mengurus administrasi ??? atau nyawa sudah tidak ada harganya lagi bagi rumah sakit ini ???.
Kami yang memilih dirawat di RUANG VIP dengan biaya sendiri yang sudah lunas melebihi tagihan yang harusnya dibayarkan diperlakukan seperti ini, apalagi mereka yang menghuni  bangsal dengan biaya JAMINAN SOSIAL ???

Continued to >> Badai itu bernama "INVAGINASI"



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...