17 February 2014

Badai itu bernama "INVAGINASI"

Berlanjut dari [ Chap #1] Badai Tak Terduga

Setelah menyelesaikan semua administrasi, tubuh mungil Fathan dibawa segera ke ruang OK RS. Sari Asih Ciledug.

Berdebar rasanya menunggu di luar setelah pintu ruangan perlahan ditutup. 2 Jam lamanya aku dan suami terduduk lunglai di depan pintu, hanya bisa berdo'a dan berharap keajaiban datang.  Karena hanya itu yang bisa kami lakukan saat itu.
Tiba-tiba salah seorang tenaga medis berpakaian hijau pupus datang menghampiri, mempersilahkan aku dan suami masuk ke ruangan OK (Operatie Kamer, bahasa belanda yang berarti kamar operasi). Bau khas obat dan alkohol semerbak memenuhi rongga penciumanku, menambah frekuensi getaran dan degup jantungku. Ya Rabb, apa yang terjadi dengan Fathan kecilku.


Aku lihat tubuhnya berbaring di pojok ruang. Matanya tertutup, namun suara alat-alat yang terpasang di tubuhnya dengan jelas dapat kudengar. Kemudian, dokter mempersilahkan aku dan suami duduk di hadapannya. Permintaan maaf yang keluar sebagai opening pembicaraan di antara kami serta merta membuat benda-benda di sekitarku seakan berputar-putar. Dokter bilang, mereka tak sanggup melakukan operasi karena kondisi Fathan yang saat itu kritis. Fathan dehidrasi dan harus menjalani proses rehidrasi sebelum dilakukan operasi. Dokter anastesi di sana pun angkat tangan.


Jalan satu-satunya, harus segera dilarikan ke RSAB. Harapan Kita mengingat peralatan dan dokter yang kompeten hanya ada di sana. Hufftt...tak pernah kuduga sebelumnya kondisinya segawat ini.
Alhamdulillah, pertolongan itu datang tepat pada waktunya. Fathan bisa segera dirujuk ke RSAB. Harapan Kita, masih ada ruang NICU kosong untuk backup pasca operasi nanti.
Tepat Pkl. 24.00 WIB kami dibawa oleh ambulance menuju RSAB. Harapan Kita. Alifa dan Zahwa terpaksa kami tinggal di Sari Asih bersama eyangnya.
Malam itu, akhirnya Fathan diobservasi di ruang Widuri Kelas I

Jum'at, 5 Juli 2013

Pukul 8 pagi tim dokter widuri mengunjungi Fathanku yang terlihat jauh lebih baik dari malam tadi. Pukul 10.00 WIB kami mengantar Fathan menuju ruang OK.
Sesaat sebelum memasuki kamar OK (5 Juli 2013)
2 Jam setelah memasuki ruang OK, suamiku dipanggil masuk ke dalam. Katanya, di sana dijelaskan tentang kondisi Fathan yang sebenarnya sambil memamerkan usus Fathanku yang terburai :(. Ususnya harus dipotong sepanjang 25 cm karena kondisinya sudah membusuk. Kemudian, Abu Fathan keluar ruangan itu dengan wajah pias dan pucat pasi. Katanya, itu pengalaman pertamanya yang tak mungkin terlupakan. Melihat dengan mata kepala sendiri usus manusia terburai, getaran dan denyut usus menunjukkan si pemilik usus masih hidup. Dan yang lebih tak terbayangkan lagi, usus itu milik lelaki kecilnya satu-satunya. Muhammad Fathan Akbar Ghifari.



Operasi berlangsung selama 4 jam hingga dokter Cathline Freya , Dokter spesialis bedah anak yang menangani Fathan memanggil aku dan suami lagi. Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Walaupun Fathan terpaksa di 'ileostomi' karena ususnya yang dipotong tidak memungkinkan untuk disambung pada operasi yang sama. Kemungkinan bocor dsb.

Setelah itu, Fathan langsung dibawa menuju ruang NICU untuk observasi pasca operasi.


Ileostomi , sebuah istilah baru yang aku temui sekali lagi. apa itu ileostomi ?

Ileostomi adalah suatu kondisi dimana usus halus dikeluarkan melalui dinding perut sebagai alat pembuangan menggantikan anus. Dengan kata lain, untuk sementara Fathan tidak menggunakan usus besarnya untuk mencerna makanan. Konsekuensinya, usus halusnya harus dikondisikan untuk belajar menggantikan peran usus besar sebagai penyerap air sementara waktu. Dan alhasil, feses yang keluar melalui ileostominya lebih cair daripada feses normal pada umumnya. Feses yang keluar melalui ileostomi ini ditampung di sebuah kantong bernama colostomi bag
Saat keluar dari ruang OK
Ruang NICU RSAB Harapan Kita
Fathan dirawat di ruang NICU selama 4 hari. Selama itu pula Fathan kecilku berpuasa. Alat-alat pemantau kondisi kesehatannya pun terpasang hampir di seluruh tubuh mungilnya. Kami hanya boleh menjenguknya selama 4 jam sehari. Pukul 11.00-13.00 WIB dan pukul. 17.00-19.00 WIB. Sebuah kondisi yang menurutku sangat berat tapi harus dijalani dengan ikhlas. Aku khawatir Fathanku di dalam sana rewel karena aku tak mengikhlaskan berpisah darinya. Terbayang setiap malam Fathan kecilku yang biasanya hanya bisa tidur sambil "nenen" dan memelukku, tapi kali ini harus melewati malam-malamnya bersama para suster dan perawat di ruang NICU.
Selama 4 hari, kami ber-empat (aku, suami, Alifa dan Zahwa) harus bolak-balik rumah-RSAB Harapan Kita karena waktu itu belum terfikirkan untuk menyewa penginapan ataupun wisma keluarga pasien disekitar RS.
Ruang NICU RSAB Harapan Kita
Tetes air pertama setelah 4 hari puasa


Selasa, 9 Juli 2013

Pukul 4 sore akhirnya Fathan sudah boleh dipindahkan kembali ke ruang rawat Widuri Kelas 1 setelah sebelumnya mulai bertahap diberi minum dengan air putih setiap 3 jam. Alhamdulillah, semua masa kritis sudah dilewati Fathanku dengan tegar dan kuat walaupun sempat demam hingga 38' sebelum dipindahkan ke ruang rawat biasa. Senyum yang selama 9 hari hilang dari wajah lucunya pun mulai kembali. 

Namun, di sisi lain aku harus menghadapi sebuah kenyataan baru. Merawat Fathanku secara langsung dengan kondisi barunya. Sebuah "Kantong Ajaib" terpasang di perut sebelah kirinya. Ya, kantong ileostomi-nya..

Membersihkan "kantong ajaib" yang terpasang di perutnya setiap 2 jam atau menggantinya bila sudah mulai bocor. Aku menjaga Fathan sendirian malam ini. Bertahap memberikan asi dengan botol 15ml setiap 3 Jam. Kakak-kakak di rumah bersama abinya.
Sungguh sebuah pengalaman baru  menjalani Ramadhan di rumah sakit dengan  keadaan yang tak pernah terbayangkan.
Dokter bilang, bila semua proses bisa dilalui Fathan dengan baik, tidak ada demam dll insyaalloh 6 hari kedepan Fathan kecilku sudah bisa pulang, Aamiin Ya Alloh..
Senyum pertama setelah sempat hilang selama 9 hari
Karena tak mungkin aku menjaga Fathan sendirian, abinya juga menemaniku di RS. Dan duo Alifa  Zahwa dititipkan ke eyang di pasar minggu. Setiap hari dikirimi gambar-gambar aktivitas Duo Krucils ini. Tak terasa, bulan memasuki bulan Ramadhan. Tampaknya, kami harus ikhlas menjalani bulan berkah ini dengan segala nikmat yang Allah berikan saat ini.


" Setiap Ramadhan adalah berkah..
Alhamdulillah Ya Rabb,Engkau memaknai ramadhanku tahun ini dengan cara-MU..
Semoga ujian kali ini menjadi ladang kebaikan dan barokah bagi kami sekeluarga
 -Aamiin- "

-- @RSAB.HARAPAN KITA, Jakarta --


My Strong Li'l Boy (Widuri)

You're Smile is my everything, Dear (Widuri)


Minggu, 14 Juli 2013
Senang bercampur deg-degan menunggu esok hari. Kabarnya, anti biotik "merophenem" yang diberikan pada Fathan selama 5 hari ini hampir genap dosisnya, berarti besok Fathan sudah bisa pulang. Yeeaayyy, saatnya bersiap...
Aku dan suami mulai berkemas dan merapikan semua peralatan kami selama di rumah sakit. Barang yang sepertinya sudah tak perlu digunakan sehari kedepan mulai dicicil diusung ke dalam mobil. Terbayang wajah-wajah tengil dan lucu Duo Krucils yang brindil dan berkeringat. Karena biasanya, di rumah eyang mereka bisa bebas bermain sepuasnya karena tak ada uminya yang mengomel saat mereka berulah.

Di rumah eyang, ngacak-ngacak rumah sampe super duper berantakan boleh, lari-larian boleh, main pasir di taman depan boleh, makan permen sepuasnya juga boleh. Pokoknya di rumah eyang semuanya boleh. Apalagi katanya mereka mulai "meracuni" Alkanz dengan virus pecicilan bin tengil khas mereka, huffttt.
Sepupu mereka Alkanz memang sengaja diboyong ke rumah eyang untuk menemani kakak-kakaknya ini. Sekaligus membagi tugas pada bundanya untuk bersama eyang menangani sang duo krucils, bocah titipan yang membuat para eyang kewalahan. Thank you so much Yangkung, Yang Uti, Bunda 'n Ayah Teddy, juga si imut Alkanz yang masih betah 'dirusuhi' Alifa dan Zahwa.

Menjelang malam, ternyata semua terjadi di luar rencana. Kening dan seluruh tubuh Fathan teraba lebih panas daripada sebelumnya. Dan saat dithermo, suhu tubuhnya menembus angka 39'. Khawatir karena radang dan pembengkakan pada bekas longline infus di ketiaknya yang sudah terpasang di meja operasi 6 hari lalu, akhirnya longline-nya dicabut. Infus dipindahkan ke lubang baru. Hasil cek darah menyatakan jamur berkembang pesat dalam darahnya. Efek pemakaian antibiotik dosis tinggi dalam waktu lumayan lama membuat sang jamur merajalela. Kasihan Fathan kecilku, karena panas tubuh tinggi menyedot banyak cairan dari dalam tubuhnya berat badannnya ikut turun drastis.
Rencana pulang besok pagi terancam gagal total. Dan benar-benar gagal total ketika Dokter Cathline Freya menghampiri dan mengatakan Fathan masih harus dirawat selama 5 hari lagi.  Selama 5 hari itu pula suntikan antibiotik merophenem bertukar tugas dengan suntikan antijamur. Astaghfirulloh...
" Fathanku hebat Fathanku kuat. 
Kuat ya sholehku, insyaalloh banyak do'a terkirim untuk kesembuhanmu sayangku. Karena sesungguhnya Alloh menciptakan kemudahan untuk mengiringi setiap kesulitan, Insyaalloh. ..
Semoga Alloh membalas sakit dan kuatmu dengan kesholehan, kecerdasan, kebijaksanaan dan ketangguhanmu kelak ya nak, Aamiin ya robbal 'alamin"

Kamis,18 Juli 2013

Akhirnya hari yang ditunggu tiba, lega rasanya bisa meninggalkan rumah sakit dan membawa pulang Fathan. Kegiatan pertama sepulang dari rumah sakit  tentunya menjemput Alifa dan Zahwa di rumah eyang.  

to be continued at next post [ Dunia Baru Jagoan Kecilku ]


5 comments:

  1. Subhanallah, saya merinding dan hampir nangis membaca cerita tentang Fathan mak :(
    semoga lekas diberi kesembuhan dan ceria seperti sedia kala, aamiin

    ReplyDelete
  2. Aamiin yaRobbal'alamin...trimakasih do'anya bun :)..Alhamdulillah sekarang ananda Fathan sudah sembuh seperti sediakala. Allah pasti membrikan kemudahan setelah kesulitan, insyaalloh :)

    ReplyDelete
  3. Assalamu'alaikum bunda Fathan

    Membaca cerita bunda membawa sy ke peristiwa sama yg sy alami 1 bulan yg lalu. Putra sy yg baru umur 7bulan jg harus di operasi karna invaginasi, tp 1minggu sebelum operasi invaginasi putra sy jg sudah operasi untuk kasus propolis rektum (rektum yg keluar). Dokter jg sudah menegaskan akan ada tindakan kolostomi melihat dari diagnosa yg ada, tp mungkin Allah berkehendak lain Alhamdulillah ketika di pertengahan operasi sy dipanggil dan semua diluar perkiraan dokter. bunda sy membayangkan betapa hebatnya bunda menjalani ujian itu.
    Terima kasih bunda, karna tulisan bunda mengajarkan sy untuk lebih bersyukur ats apapun kndati itu berat. semoga bunda selau dalam lindunganNya.
    Untuk Dex Fathan semoga menjadi anak yg sholeh berbakti kepada ayah bunda ya nak...kelak ketika engkau bs membaca dan memaknai tulisan bundamu nak...betapa beruntungnya Allah memberikan orang tua yg bgt hebat dan kuat untuk selalu menjaga merawat anak2nya dalam keadaan apapun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumussalam wr wb.

      Salam kenal bunda nur ivien. Berpetualang bersama sholehku fathan yang mengajarkan saya untuk kuat, selalu bersyukur walau terkadang hati menangis melihat kenyataan lebih buruk yang dihadapi anak dan orangtua lain di rumah sakit harapan kita, rumah sakit yang konon menjadi terminal akhir rujukan untuk kasus yang sulit, dimana batas antara maut dan kesembuhan seakan tak berjarak. Dengan mata kepala, sy saksikan langsung ujian orangtua yang lain. Sdh seharusnya sy lebih bersyukur dan pasrah, memberi pembelajaran untuk selalu empati dan berbagi. Allah pasti memaknai seberat apapun ujian, cobaan, maupun hukuman yang kita jalani dengan samudera hikmah yang indah bagi setiap kita yang bersyukur.

      Semoga bunda dan keluarga senantiasa dilindungi dan dirahmati Allah, aamiin :-)

      Delete
  4. Assalamu 'alaikum bunda fathan

    Membaca tulisan ini membuat saya menangis, betapa menjadi pembelajaran yang sangat berarti. Moga menjadi pahala di sisi-Nya.aaamiin

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...