29 January 2014

Malaikat Kecil Pembawa Teguran.

Rabu, 29 Januari 2014

Adzan Isya baru saja selesai berkumandang, saat terdengar ketukan pintu pagar depan rumah. Bergegas suamiku membuka pintu pagar. Dua bocah kecil berdiri di depan pagar.

Yang satu bocah laki-laki berpakaian lusuh membawa sebuah payung yang juga lusuh. Yang satunya lagi, anak perempuan sedikit lebih besar dari si bocah lelaki berpakaian tak kalah lusuh dan agak basah.


Keduanya sama2 menggunakan sandal jepit yang kebesaran. Si bocah perempuan tampak tak sempurna kedua bola matanya. Wajah mereka mirip satu sama lain. Dengan polosnya dua bocah itu meminta sisa makanan karena rumah mereka terkena banjir sejak pagi tadi. Mereka harus naik angkutan umum dari tempat tinggal mereka yang kebanjiran, berjalan agak jauh hingga ke komplek tempat tinggal kami, namun yang mereka minta hanya "SISA MAKANAN".

Ya Alloh Ya Ghofur, ampuni hamba. Teringat sisa makanan yang terserak mubadzir kami tinggalkan begitu saja di salah satu restoran sore tadi, sementara di sisi lain bumi ciptaan-MU bahkan tak jauh dari tempatku ada banyak perut yang sedang kelaparan.

Segera aku masuk, memeriksa meja makan mungkin saja masih ada makanan siap makan yang tersisa. Hasilnya nihil. Karena kami berencana keluar rumah sejak pagi tadi dan baru kembali selepas maghrib, semua makanan dimeja makan bertengger manis di dalam kulkas. Setelah menerima sebuah bingkisan kecil dari kami, kedua bocah tadi berlalu sambil mengucapkan terima kasih.

Tak lama sepeninggal mereka, baru aku ingat bungkusan gorengan yang ketinggalan didalam mobil. Cemilan saat kami di jalan siang tadi. Aku periksa masih tersisa beberapa potong bakwan, molen, dan roti goreng. Kupikir, lumayan untuk mengganjal perut mereka sementara hingga kembali  ke rumahnya, atau untuk meneruskan perjalanan mereka. Aku segera berlari ke arah mereka menghilang di tikungan jalan. Kedua bocah tadi sudah pergi entah kemana.

Tinggal disana aku terpaku, malu, sedih dan entah  perasaan apa berkecamuk jadi satu. Dua gadis kecilku yang biasanya selalu "pecicilan"  pun ikut terpaku bergandengan tangan. Entah apa yang mereka pikirkan saat itu.

Ya Rabb, Ya Rahman Arrahim...
Ya Waliy Ya Raqib jagalah dua bocah tadi hingga kembali ke rumahnya, engkau sebaik-baik penjaga, engkau sebaik-baik pemberi rizki.
Allahumma, la ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minadzhalimin. Ampunilah kami karena sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang dzolim, astaghfirullahal'adzim :'(
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...