1 November 2013

Kesempatan VS Prioritas

Seorang teman pernah bertanya, mengapa aku memilih di rumah sementara aku mampu bekerja di luar sebagai wanita kantoran, dengan senyum inilah jawabanku :

Aku hanya tidak ingin kehilangan banyak momen berharga bersama buah hatiku, aku tidak ingin melewati masa emas perkembangan mereka begitu saja. Sementara aku tahu, waktu tidak pernah bisa diputar kembali.
Karena sebenarnya merekalah aset kami saat ini dan di masa depan nanti. 
 
Lalu temanku itu bertanya lagi, lantas untuk apa aku sekolah dan menuntut ilmu setinggi-tingginya bila akhirnya hanya untuk menjadi ibu rumah tangga.

Sekali lagi dengan senyum aku menjawab :

Menuntut ilmu bagiku adalah bekal sebagai ibu dan pendidik bagi anak-anaknya. Karena ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Aku ingin anakku dididik dengan ilmu. Tidak sekedar hidup, tercukupi kebutuhan pangan, tercukupi istirahatnya, dan tercukupi materinya lantas tumbuh menjadi besar. Tapi aku ingin mereka tumbuh dengan kasih sayang, kehangatan dan perhatian yang tercukupi pula. Akulah tempat mereka pertama kali bertanya, tentang dunia, tentang Tuhannya, juga tentang hakikat hidup yang sebenarnya.  Agar mereka merasa bahwa ibunya selalu ada untuk tempat mereka mengenal dunia. Hingga mereka tak harus mencari alternatif untuk bermanja atau sekedar bertanya pada orang yang salah. Dan itu, bagiku tidak cukup hanya dari sisa waktu dan tenagaku ketika bekerja di luar rumah. Di negeri Jepang saja, para kyoiku mama atau "ibu pendidikan" rela meninggalkan karir mereka dan sangat bangga menjadi ibu yang mendidik sendiri anak-anaknya. Rata-rata pendidikan mereka S1 atau S2. 


Ketika aku merasa lelah dan enggan untuk terus belajar, cukup bagiku mengingat bahwa anak-anak kita berhak dididik oleh ibu yang cerdas, saat itulah semangatku kembali menyala.

Bukan...
Aku bukannya menilai skeptis para ibu yang masih bekerja di luar rumah, apalagi mereka yang menggebu-gebu mengejar jabatan bertingkat serta karir di luar rumah, aku paham tiap orang memiliki kondisi yang berbeda, juga masalah kehidupan yang berbeda.

Tapi perkembangan anak-anakku adalah tanggung jawabku. Dan menurutku itu tidak bisa ku abaikan dengan ringan. Fase belajarnya tidak akan bisa terulang juga masa balitanya juga tidak bisa dimundurkan. Aku hanya tidak mau melewati setiap momentnya sedikitpun apalagi merutuki diriku di masa depan nantinya karena lalai mendidik anakku.
Aku tak ingin kehilangan kesempatan mengenal mereka lebih dekat, hingga tak menyesal nanti ketika mereka sudah memiliki dunianya sendiri.
 

Apakah aku mengalah ? atau sebuah pengorbanan ?
Bukan,
Aku tidak mengalah apalagi berkorban. Ini adalah perihal tentang kepuasan bathinku menjadi ibu yang tidak bisa digantikan dengan materi atau ijazah hasil beasiswa kelas international sekalipun. Sebuah kehormatan terbesar yang telah diberikan langsung oleh Allah. Sebagai IBU yang fitrahnya lebih dekat menjaga, merawat dan mendidik anak-anak.

Bukan pula pembenaran atas lalainya aku mengejar kesempatan karir yang terbuka untukku. Aku memilihnya tanpa menyesalinya. Lagi pula, aku memang tidak pernah tahan jauh dari tiga krucilku ini. Setiap orang tua pasti pernah merasakan, ada alarm aneh yang berbunyi nyaring setiap kali kita lalai mendidik anak kita. Namun tetap mempersiapkan diriku dengan ilmu. Agar kelak, saat Allah memutuskan aku untuk mulai bergerak, aku mampu melanjutkan perjuangan suami tercinta. Allah hanya memintaku untuk bersabar dan menahan diri sejenak. Bukankah Allah yang menjamin rezeki setiap hambaNya ?

Suatu saat nanti, bukan seberapa hebat karirku yang akan dipertanyakan. Bukan seberapa banyak materi yang telah aku kumpulkan. Tapi seberapa kuat aku memikul tanggung jawab sebagai istri dan pendidik bagi masa depan amanah yang Allah berikan padaku, pada kami berdua. Hingga kelak anak-anakku siap melanjutkan perjalanan sesuai fitrahnya...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...