18 December 2011

Ketika Cinta Menggoda

Cinta
Jatuh cinta berjuta rasanya, demikian kata-kata yang tak asing di telinga. Topik yang selalu menarik untuk dibahas dan dibicarakan. Anak kecil, remaja bahkan di usia senja sekalipun. Cinta adalah sebuah perasaan jiwa yang menggetarkan hati,dan melenakan jiwa. Cinta menjadikan terpautnya hati orang yang mencintai kepada orang yang dicintai. Atas nama cinta, seseorang rela berbuat apa saja demi menarik hati orang yang dicintai. Menjadi pujangga mendadak padahal sebelumnya sama sekali tidak tertarik dengan sastra. Sering mematut diri di cermin walaupun sebelumnya adalah makhluk super dekil. Rela mandi lima kali sehari demi tampil wangi dan berseri di depan si do’i. Semuanya demi cinta, katanya.

Tak ada salahnya jatuh cinta, karena setiap orang tidak bisa memilih kepada siapa ia jatuh cinta. Karena perasaan itu hadir dengan sendirinya. Rasa yang satu ini adalah fitrah yang diberikan Allah Swt. Islam adalah agama yg fitrah, maka Islam mengakui tentang hal ini. Hal yang sangat mendasar dalam diri manusia. Namun Islam membagi beberapa tingkatan tentang cinta. Dan tingkatan-tingkatan cinta ini akan selalu ada dalam kehidupan ini sampai saatnya bumi dan seisinya dihancurkan oleh Allah. Dalam banyak hal, cinta muncul untuk mengontrol keinginan ke arah yang lebih baik dan positif. Hal ini dapat terjadi ketika orang yang mencintai menjadikan cintanya sebagai sarana untuk meraih hasil yang baik dan mulia guna meraih kehidupan sebagaimana kehidupan para manusia pilihan dan suci serta mereka yang bertaqwa dan selalu berbuat baik. 

Namun, tak jarang pula manusia terjerumus oleh cinta. Seperti yang terjadi pada anak muda zaman sekarang. Alih-alih ta’aruf tetapi menggugurkan segala larangan antara laki-laki dan perempuan belum muhrim yang jelas hukumnya di dalam islam.
Perhatikanlah firman Allah berikut ini, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih baik bagi mereka…katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…” (QS. 24: 30-31).

Awal dorongan syahwat adalah dengan melihat. Maka jagalah kedua mata agar terhindar dari tipu daya syaithan. Tentang hal ini Rasulullah bersabda, “Wahai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu (halal) bagimu, tetapi tidak yang kedua!” (HR. Abu Daud).

Suatu kebiasaan yang juga menjadi hal yang sudah biasa dalam pergaulan pemuda – pemudi saat ini, bahkan yang mengaku muslim sekalipun adalah berjabat tangan ataupun bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Perhatikanlah pernyataan Nabi yang demikian tegas dalam hal ini, beliau bersabda: “Seseorang dari kamu lebih baik ditikam kepalanya dengan jarum dari besi daripada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani).
Bahkan rela melakukan perbuatan zina yang belum haknya demi pembuktian cinta , Naudzubillah

Karena itu, cinta diturunkan dapat dikatakan sebagai anugerah terindah ataupun sebagai ujian terberat.

Cinta
Ketahuilah saudaraku, bahwa sesungguhnya cinta adalah komitmen, seperti orangtua yang mencintai anaknya dengan memenuhi segala hak atas amanah yang Allah berikan kepadanya. Seperti seorang anak mencintai orangtuanya dengan berbakti dan menunaikan hak mereka. Seperti sepasang suami istri yang saling memiliki hak dan kewajiban di antara keduanya. Ketika seorang pria berani mengatakan " Aku mencintaimu, ukhti"
atau " aku mencintaimu, fulanah", berarti ia menawarkan sebuah komitmen dan tanggung jawab demi sebuah kehalalan di sisi TUHANnya. Adalah seorang PENGECUT bagi laki-laki yang berani mengungkapkan cinta kepada seorang wanita tanpa merealisasi-kan komitmen dan tanggungjawab itu dengan sebuah ikatan "PERNIKAHAN". 


Pernikahan di sisi Allah adalah sebuah MITSAQON GHALIDZA.  Perjanjian yang agung dimana berpindahnya tanggungjawab seorang ayah terhadap puterinya ke pundak sang pangeran pujaan hati. Perjanjian yang hanya disebut tiga kali dalam Al-qur’an. Setara dengan perjanjian Allah dengan para Nabi dan Rasul Ulul Azmi [QS. Al-Ahzab: 7], dan ketika Allah SWT mengangkat Bukit Tsur di atas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah [QS. An-Nisa: 154]. Dengan pernikahan, gugurlah semua batas yang diharamkan atas pergaulan di antara mereka. Karena semua indah pada waktunya, bila cinta dilandasi iman dan takut kepada Allah Swt.

Namun bagaimana bila belum mampu menikah ?
Rasulullah SAW memberikan solusi dalam  hadistnya : “Wahai para pemuda, barangsiapa dari kalian mampu memberi nafkah maka hendaknya dia menikah karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena ia adalah kendali baginya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Pernikahan orang-orang yang belum memiliki kadar cukup bisa menimbulkan persoalan-persoalan sosial, mereka tidak hanya merugikan diri mereka saja akan tetapi merugikan anak-anak mereka, masyarakat dan istri mereka, sering kita melihat anak orang-orang tersebut terbuang di jalan-jalan tidak memiliki tempat tinggal dan tidak mendapatkan makan, akibatnya mereka menjadi beban masyarakat. Dalam kondisi ini Islam memerintahkan mereka untuk menahan diri dengan tidak menikah.
Firman Allah Subhanahu wata’ala, artinya, “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian dirinya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. an-Nur: 33).

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)
Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang terbaik buat kita. Allahuma aamin…

Cinta Halal

Hingga perasaan agung yang dianugerahkan Allah tersebut tidak hanya menjadi sebuah roman picisan, dan elegi murahan. Agar cinta itu berakhir seperti cinta para manusia pilihan. Sesuci cintanya Nabiullah Ayub As dan istrinya Laya yang setia dalam suka dan duka, seabadi cinta Rasulullah SAW dan Siti Khadijah Ra, seindah cinta Nabi Yusuf As dan Siti zulaikha yang happy ending…

Inilah teladan para pecinta yang berakhir indah hingga ke Jannah-Nya. Karena cinta sejati dan teragung adalah cinta kepada Sang Pemilik Hati, allah azza wa jala. Dan cinta kepada segala sesuatu yang mendekatkan kita kepada cinta-Nya.

So, para jombloers sudah siapkah anda jatuh cinta ?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...